Sabtu, 04 Februari 2017

Soal Bela Ulama

Begini, ada dua perspektif dalam soal bela ulama. Pertama dari sisi umat yang membela. Kedua dari sisi Ulama yang dibela. Dari perspektif umat, pembelaan itu lebih bersifat khidmah atau pelayanan. Tanpa dimintapun, umat yang mencintai ulama akan segera memberikan pembelaan. Sebenarnya, ini tidak hanya berlaku untuk ulama, saat keluarga yang Anda cintai diganggu orang, Anda pasti akan bereaksi memberikan pembelaan.
Nah, sementara dari sisi sang ulama ini perlu catatan khusus. Ulama mana dulu, karena zaman sekarang ini kan di negeri kita ada jenis ulama yang -maaf- sepertinya lebay banget minta dibelain....Padahal, ulama sejati pasti mengerti dirinya sudah pasrah total dalam pemeliharaan Allah, Tuhan yang mereka yakini sebagai Sang Pembela sesungguhnya.
Ulama yang mencapai derajat kekasih Allah itu dicirikan dua hal; pertama, tidak ada ketakutan dan kedua tidak ada kesedihan. Tidak takut itu berarti berani (asy-Syajâ'ah), keberanian mereka di atas rata-rata. Syekh Ramadhan Al-Buthi tidak pernah gentar menghadapi ancaman Teroris ISIS saat beliau mendukung Basyar Asad, beliau tidak pernah menyeru pendukungnya untuk mengawal dirinya, dengan gagah berani beliau tetap mengajar di majelis-majelis tanpa pengawalan hingga akhirnya beliau syahid dalam aksi bom bunuh diri teroris ISIS saat beliau sedang mengajar.
Yang kedua adalah sikap tidak pernah bersedih alias tenang (al-ithmi'nân) dalam menghadapi rintangan apapun dalam perjuangan da'wah. Ketenangan ulama sejati ini merupakan isyarat ketinggian maqam mereka sebagai kekasih Allah. Mereka tidak pernah gelisah sehingga tidak perlu menuding pihak lain telah mengkriminalisasi dirinya. Mereka tidak galau dalam soal keuangan sehingga tidak perlu bekerja sama dengan mafia anggaran, penjahat birokrat ataupun pengusaha lintah darat, mereka memiliki ketenangan yg hebat karena seluruh kehidupannya diyakini telah mendapat ridho dari Allah.
Pada zaman kerajaan Turki Utsmani dulu ada dua jenis ulama. Ada ulama Resmiyé ada juga ulama i resmiyé. Ulama Resmiyé itu diangkat langsung oleh pemerintah sebagai tameng yg siap melahirkan fatwa berdasar kepentingan kerajaan, dapat dikatakan ulama Resmiyé itu stempelnya pemerintah. Ya mirip-miriplah dengan MUI di zaman Orba yang suka bekerja sesuai pesanan pemerintah.
Marwah seorang ulama itu tidak akan pernah runtuh oleh prilaku orang lain, ia hanya dapat dijatuhkan oleh kezaliman yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Bila seorang ulama dihinakan oleh seseorang atau katakanlah oleh kekuatan makar sejagat sekalipun, sementara ia adalah pribadi yang mukhlis (tulus), rahîm (penuh kasih), hilm (sabar), tsiqah (terpercaya), nâfi'un li ghairih (bermanfa'at bagi orang lain), maka kemuliaan dirinya tidak akan pernah bisa dihancurkan sekalipun jin dan manusia berkumpul di dunia ini untuk menghancurkannya.
Sementara kemuliaan seorang murid atau sebut saja dalam skala besar sebagai umat tentu saja berjalan berkelindan dengan sang teladan. Ketokohan ulama yang rabbani akan membimbing para pengikutnya sebagai pribadi yang hanîf dan jauh dari sikap arogan dalam melakukan pembelaan. Akhlaq yang baik menjadi guidence dalam penyelesaian setiap urusan sehingga warna kehidupan di sekitar ulama dan pengikutnya yang baik akan menampilkan situasi yang baik pula.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari pelbagai peristiwa yang belakangan meramaikan Jakarta lewat pentas peristiwa yang melibatkan ulama, umat, pemerintah serta media yang terus menyuguhkan lalu lintas berita tiada henti di beranda kehidupan kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar