Kamis, 16 Februari 2017

"Ora Ilok"

Bentuk ungkapan ora ilok berupa :
1.   Larangan.
Ungkapan ‘ora ilok’ dalam bahasa Indonesia berarti ‘tidak baik’ merupakan ungkapan dengan tujuan untuk melarang penutur kepada mitra tuturnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak baik.

2.   Larangan dengan menyertakan akibat.
Ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa yang menyertakan akibat jika seseorang melanggar larangan tersebut dapat dilihat pada contoh berikut :
·      Ora ilok nglungguhi bantal, engko wudunen ‘tidak baik menduduki bantal, nanti bisa bisulan’
·      Ora ilok dolanan beras, engko tangane kithing ‘tidak baik bermain beras, nanti tangannya keriting (dua jari tangan saling melekat /bertumpang tindih)
·      Ora ilok perawan lungguh/ngadek neng ngarep lawang, mengko iso dadi perawan tuwa ‘tidak baik anak gadis duduk atau berdiri di tengah pintu, nanti bias jadi perawan tua’
·      Ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing ‘tidak baik meludahi sumur, nanti bibirnya sumbing’
3.   Larangan tidak menyertakan akibat.
Ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa yang tidak menyertakan akibat jika seseorang melanggar larangan tersebut dapat dilihat pada contoh berikut :
·      Ora ilok mangan karo turu ‘tidak baik makan sambil tidur’
·      Ora ilok bocah wedok lungguh karo jigang ‘tidak baik anak perempuan duduk dengan mengangkat kaki’
·      Ora ilok mangan karo ngomong ‘tidak baik makan sambil ngomong’
·      Ora ilok mbuang uwuh neng longan ‘tidak baik membuang sampah di kolong’
4.   Bahasa Jawa ngoko
Bentuk ungkapan ora ilok disampaikan dengan bahasa Jawa ragam ngoko. Pemilihan ragam ini kemungkinan disebabkan ungkapan ini berisi nasehat yang biasanya disampaikan orang tua kepada anak-anak cucunya yang berusia lebih muda.

"Fungsi dan Makna Ungkapan ora ilok".
Fungsi ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
1.   Untuk Anak-Anak,
Berdasarkan data, contoh ungkapan ora ilok yang difungsikan untuk anak-anak adalah sebagai berikut :
·      Ora ilok lungguh neng nduwur bantal, mengko wudunen ‘tidak baik duduk di atas bantal, nanti bisulan’ Fungsi yang dimaksudkan dalam ungkapan ora ilok lungguh neng nduwur bantal, nanti bisulan ‘tidak baik duduk di atas bantal nanti bisulan’ tersebut berkaitan dengan siapa dan kapan larangan tersebut digunakan. Berdasarkan bentuknya, dapat dilihat bahwa larangan tersebut adalah sebagai nasihat orang tua kepada anaknya. Ungkapan ini dimaksudkan sebagai pengajaran beretika atau sopan santun kepada anak supaya tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak baik. Dengan cara yang arif, melalui ungkapan ora ilok tersebut, orang tua bermaksud mengingatkan anaknya untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Jadi bukan semata-mata akan menyebabkan bisulan ketika anak menduduki bantal. Bantal digunakan sebagai alas kepala ketika tidur. Oleh karena itu, tidak sopan jika bantal yang seharusnya untuk kepala tapi ditempatkan di bawah pantat sebagai alas duduk.
·      Ora ilok mbuka payung neng njero omah, mengko ibuke mati ‘tidak baik membuka payung di dalam rumah, nanti ibunya meninggal’ Dengan melihat bentuknya,fungsi ungkapan ini merupakan nasihat orang tua kepada anaknya, karena pada umumnya anak-anaklah suka bermain payung. Jika dipikir secara nalar tidak mungkin seseorang yang bermain dengan membuka payung di dalam rumah akan mengakibatkan ibunya meninggal. Dengan menakut-nakuti ibunya akan meninggal diharapkan si anak tidak bermain payung lagi, karena payung seharusnya digunakan di luar rumah ketika sedang hujan. Selain itu, alasan lain yang masuk akal adalah jika membuka payung di dalam rumah juga akan membahayakan orang lain.
·      Ora ilok dolanan beras, engko tangane kithing ‘tidak boleh bermain beras, nanti tangannya kithing (dua jari tangan saling melekat /bertumpang tindih). Fungsi ungkapan ini adalah sebagai peringatan orang tua kepada anaknya untuk tidak bermain beras. Larangan tersebut diucapkan dengan cara yang arif, yaitu dengan ungkapan ora ilok, jadi orang tua tidak perlu melarang anaknya dengan cara yang keras atau dengan marah supaya tidak melakukan perbuatan yang tidak baik, karena pada umumnya anak-anak akan lebih menurut jika orang tua menasehati dengan kelembutan dan kesabaran. Di samping itu, secara rasional, beras merupakan bahan makanan yang seharusnya bersih, jadi tidak baik jika dipakai mainan karena mengakibatkan beras menjadi kotor, selain itu jika dipakai untuk mainan beras bisa tumpah dan berceceran.
2.   Untuk Anak Gadis,
·      Ora ilok perawan lungguh/ngadek neng ngarep lawang, mengko iso dadi perawan tuwa’ ‘tidak baik anak gadis duduk atau berdiri di tengah pintu, nanti bisa jadi perawan tua’ ‘Larangan anak gadis duduk/berdiri di tengah pintu, itu merupakan ajaran atau nasihat orang tua kepada anak gadisnya yang berkaitan dengan etika. Larangan ini pun mempunyai alasan yang tidak diungkapkan secara langsung. Dengan memberikan larangan ini diharapkan si gadis terbiasa berperilaku baik, karena dengan terbiasa berperilaku baik di rumah diharapkan anak gadisnya akan menjadi sosok yang berbudi pekerti luhur. Kebiasaan duduk di depan pintu, di mata orang-orang tua Jawa, bisa memberikan kesan bahwa si gadis kurang santun. Selain itu, duduk di depan pintu tidak pantas dan bisa menggangu orang lain yang akan melewati pintu. Jadi, sebaiknya duduk di tempat yang seharusnya,
·      Ora ilok anak perawan maem nyonggo piring, mengko ditampik joko ‘tidak baik anak gadis makan dengan menyangga piring, nanti ditolak jejaka’ ‘Dilihat dari bentuknya, larangan ini sama dengan larangan duduk di depan pintu. Makna larangan anak gadis makan dengan menyangga piring itu merupakan ajaran atau nasihat orang tua kepada anak gadisnya yang berkaitan dengan etika. Larangan ini pun mempunyai alasan yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan tersebut adalah peringatan agar si gadis bertingkah laku sopan ketika makan, dengan mengikuti tata cara makan yang benar, dengan meletakkan piring di meja makan. Di samping itu, jika makan dengan menyangga piring selain tidak sopan, akan mengakibatkan piring mudah terjatuh kalau tersenggol.
·      Ora ilok nyugokne geni nggawe sikil ‘tidak baik memasukkan kayu ke dalam tungku dengan menggunakan kaki’. Dengan memperhatikan bentuknya, larangan memasukkan kayu ke dalam tungku dengan menggunakan kaki ini bermakna nasihat orang tua kepada anak gadisnya supaya bertingkah laku yang baik dan sopan. Tidak pantas di pandang jika seorang gadis pada saat memasak, memasukkan kayu ke dalam tungku tidak menggunakan tangan, tetapi dengan menggunakan kaki. Dengan larangan tersebut, diharapkan si gadis akan berperilaku yang baik, dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan yang benar. Selain itu, kalau memasukkan kayu ke dalam tungku dengan menggunakan kaki akan membahayakan dirinya sendiri, karena bisa menyebabkan kakinya terbakar.
·      Ora ilok bocah wedok lungguh karo jigang ‘tidak baik anak perempuan duduk dengan mengangkat kaki’ Dengan melihat bentuk ungkapan di atas, makna ungkapan ora ilok bocah wedok lungguh karo jigang adalah sebagai nasihat orang tua kepada anak gadisnya supaya bersikap sopan, karena tidak pantas jika seorang gadis duduk dengan mengangkat kaki. Dengan terbiasa bertingkah laku yang baik dan sopan di rumah, diharapkan si gadis tidak akan canggung dan tidak bersikap yang kurang pantas baik di luar rumah maupun dalam pergaulan.

3.   Untuk Wanita Hamil
Ungkapan ora ilok yang khusus ditujukan untuk wanita hamil dapat diperhatikan pada data berikut :
·      Ora ilok, wong meteng mateni kewan, mengko anake cacat ‘tidak baik, orang hamil membunuh binatang, nanti anaknya bisa cacat’. Fungsi ungkapan ini adalah nasihat dari orang yang lebih tua kepada wanita. yang sedang hamil. Dengan larangan untuk tidak membunuh hewan ini diharapkan si ibu dapat memberikan contoh kepada anaknya supaya kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan penyayang. Selain itu, diharapkan anaknya kelak menjadi anak yang sabar dan menghormati sesama makhluk Tuhan serta menjadi anak yang berbudi pekerti luhur.
·      Ora ilok, wong meteng lungguh neng tampah ‘tidak baik wanita hamil duduk di atas tampah’. Ora ilok, orang yang sedang hamil duduk di atas tampah. Secara rasional kalau tampah itu diduduki orang yang sedang hamil akan rusak, dan bisa mengganggu kesehatan orang yang sedang hamil dan bayinya. Bahkan bila tampah diduduki oleh siapapun logikanya akan rusak karena fungsi tampah bukan untuk diduduki. Makna dari ungkapan ini adalah orang yang sedang hamil sebaiknya menjaga sikap dan tingkah laku supaya anak yang dilahirkannya kelak akan menjadi anak yang berperilaku dan berbudi pekerti yang baik.

4.   Untuk Umum.
Berdasarkan data, contoh ungkapan ora ilok yang difungsikan untuk umum atau semua usia adalah sebagai berikut :
·      Ora ilok mangan karo ngomong ‘tidak baik makan sambil bicara’. Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Larangan ini pun mempunyai makna yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan karo ngomong ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam hidup, orang harus bertingkah laku yang sopan dengan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas. Selain itu, jika larangan itu dilakukan (makan sambil bicara) bisa menyebabkan tersedak.
·      Ora ilok mangan karo mlaku ‘tidak baik makan sambil berjalan’. Dilihat dari bentuknya, larangan ini berlaku untuk umum, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Larangan ini pun mempunyai makna yang tidak diungkapkan secara langsung. Makna larangan ora ilok mangan karo mlaku ini merupakan ajaran atau nasihat supaya dalam hidup, orang bertingkah laku sopan dan sesuai dengan norma, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas. Selain itu, secara rasional kalau makan sambil berjalan tentu saja makanannya bisa kotor terkena debu atau kuman yang akan membahayakan kesehatan orang yang bersangkutan.
·      Ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing ‘tidak baik meludahi sumur, nanti bibirnya akan sumbing’ Ungkapan ora ilok ngidoni sumur, mengko lambene guwing ini berfungsi sebagai nasihat untuk umum, dari anak-anak hingga dewasa. Meludahi sumur akan menyebabkan bibir sumbing tidak irasional/tidak logis. Akan tetapi, secara rasional, bisa dimaknai ludah itu kotor, dan air sumur digunakan untuk memasak, minum, mandi dan sebagainya. Jadi air sumur sebaiknya harus selalu dalam keadaan bersih dan sehat. Bila air sumur diludahi, maka akan menjadi kotor dan tidak baik untuk dipergunakan sehari-hari. Makna yang tersirat dalam ungkapan ini adalah sebagai manusia sebaiknya selalu bertingkah laku yang sopan, dan jangan melakukan perbuatan yang tidak pantas.
·      Ora ilok mbuwang uwuh neng longan ‘tidak baik membuang sampah di bawah tempat tidur’. Ungkapan ora ilok yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘tidak baik membuang sampah di bawah tempat tidur’ itu tentu saja tidak pantas dilakukan karena tidak baik untuk kesehatan, sebab kalau sampah itu membusuk bisa menjadikan bau tidak sedap/tidak enak. Selain itu, bisa juga sampah akan menjadi sarang bibit penyakit. Ungkapan ini berfungsi untuk umum dan sebagai nasihat untuk semua orang supaya melakukan segala sesuatu sesuai dengan etika.
·      Ora ilok nyapu bengi-bengi ‘tidak baik menyapu malam-malam’. Ungkapan ora ilok nyapu bengi-bengi ‘tidak baik menyapu pada malam hari’ merupakan larangan yang ditujukan untuk umum. Malam hari adalah waktu untuk istirahat/tidur. Oleh karena itu, tidak baik menyapu pada malam hari karena debu yang beterbangan bisa mengganggu orang yang sedang tidur. Selain itu, menyapu pada, malam hari dikhawatirkan kotoran yang disapu kurang bersih.

"Ora ilok sebagai Pelajaran Berbudi Pekerti".
Budi pekerti secara umum adalah moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan. Budi pekerti adalah tuntunan moral yang paling penting karena budi pekerti merupakan induk dari segala etika, tata krama,tata susila, dan perilaku baik dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari.
Penanaman budi pekerti pertama-tama bisa dilakukan oleh orang tua dan keluarga di rumah sejak masa kanak-kanak, selanjutnya di sekolah, pesantren, dan kemudian di masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.
Budi pekerti merupakan suatu perilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan. Artinya, seseorang diajarkan melakukan hal yang baik mulai dari masa kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan, misalnya cara berpakaian, cara berbicara, cara menghormati orang lain, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah dan sebagainya.
Orang tua Jawa terutama para generasi tua, mulai menanamkan pengertian tentang hal yang baik dan benar untuk dilakukan sesuai dengan etika melalui banyak cara, antara lain dengan menggunakan ungkapan ora ilok.
Secara tidak langsung, ungkapan ora ilok, ini merupakan salah satu cara yang arif untuk mengingatkan keluarganya untuk bersikap sopan, bertindak sesuai dengan tata krama. Dengan mematuhi dan tidak melanggar larangan ora ilok ini, secara tidak langsung orang sudah memberikan pelajaran berbudi pekerti.
Pendidikan budi pekerti melalui ungkapan ora ilok merupakan usaha untuk menyiapkan anak menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Banyak hal yang dapat dipetik dari ungkapan ora ilok tersebut, salah satunya adalah pitutur atau nilai budi pekerti yang masih relevan dengan nilai-nilai yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini.
Di samping itu, pelajaran berbudi pekerti merupakan upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan, dan perbaikan perilaku anak agar mereka mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, dan seimbang. Dengan pelajaran berbudi pekerti diharapkan akan menjadi bekal bagi masa depannya, karena budi pekerti luhur dapat menciptakan sikap sopan santun dalam bersikap dan berbuat baik, tertib menurut adat yang baik yang menunjukkan tingkah laku yang beradab. Dalam ungkapan ora ilok ini, penanaman etika dihubungkan dengan norma sopan santun, tata cara berperilaku yang baik dalam pergaulan bermasyarakat.

"Kesimpulan"
Ungkapan ora ilok dalam bahasa Jawa masih sering digunakan oleh masyarakat Jawa, terutama di daerah-daerah yang belum banyak mendapat pengaruh budaya modern. Ora ilok dalam bahasa Jawa mengandung pesan moral dan nilai-nilai kebaikan atau budi pekerti bagi masyarakat Jawa. Ungkapan tersebut dimaksudkan agar seseorang tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau melanggar unggah-ungguh. Di lihat dari bentuknya, ungkapan ora ilok berupa larangan, dengan disertai akibat, tanpa disertai akibat, dan diungkapkan dengan bahasa Jawa ragam ngoko. Sedangkan dari fungsi dan maknanya ungkapan ora ilok ini dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu untuk anak-anak, untuk anak gadis, untuk wanita hamil, dan untuk umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar