Senin, 24 April 2017

Gus Mus: “Renungan Rajab”

Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya, atau setidaknya petinggi tertinggi propinsi kita, gubernur, kapan saja kita mau?
Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house.

Nah ini Penguasanya petinggi yang Mahatinggi, Penguasa segala, mengadakan open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Ia bahkan membuka pintu untuk kita kapan saja. Tengah malam atau dini hari sekali pun, Ia menerima pesowanan kita. Malah menawarkan, "Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang ingin meminta sesuatu?"

Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi KemahamurahanNya itu? Apakah kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden atau gubernur?


Senin, 03 April 2017

NU Itu Kumpulannya Para Ulama Yang Percaya Pada Diktum "Ikhtilafu Ummati Rahmah"

Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia dengan anggota jutaan orang, dan dipimpin oleh para ulama dan akademisi (bukan dai, motivator, atau mualaf), yang ahli ilmu-ilmu keislaman tradisional, saya kira wajarlah bila sering terjadi ikhtilaf atau perbedaan sikap di antara para ulama NU mengenai persoalan-persoalan politik mutakhir (dulu Gus Dur pernah menulis esai tentang perbedaan sikap Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri terhadap Demokrasi Terpimpin yang diberi judul jenaka, "Sulit Masuknya, Mudah Keluarnya"). Toh, NU itu kumpulannya para ulama yang percaya pada diktum "ikhtilafu ummati rahmah," bukan organisasi militer yang harus satu kata dalam segala hal. Yang berisik itu kan orang-orang luar NU yang ingin ormas besar ini berada di pihak mereka. Maka, bila sejumlah ulama NU mengeluarkan pendapat yang cocok buat mereka, ramai-ramailah mereka 'mendadak NU'. Tapi begitu ulama NU yang lain mengeluarkan pendapat yang tak cocok dengan kepentingan mereka, meluncurlah serapah, makian, dan cacian.

Ilmu Yang Bermanfaat Itu Apa Sih?

Ilmu yang bermanfaat itu apa sih? Kalau dalam rumusan al-Ghazali di Bidayat al-Hidayah, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu "yang menambah rasa takutmu kepada Allah, membuka matamu akan kekurangan-kekurangan dirimu sendiri, menambah pengetahuanmu tentang cara menyembah Tuhanmu, mengurangi cinta kepada dunia, menambah cinta kepada akhirat, membuka matamu akan cacat-cacat dalam amalan-amalanmu sehingga Engkau dapat berhati-hati darinya, membuatmu peka terhadap jebakan-jebakan dan tipu-daya setan, tipuannya terhadap ulama su' sehingga mereka patut mendapat kebencian dan murka Allah, karena mereka menggunakan agama untuk menikmati dunia, menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mendapatkan kekayaan dari penguasa, menggelapkan harta wakaf, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim, dan mengarahkan seluruh energi mereka sepanjang hari untuk meraih jabatan dan prestise di hati masyarakat, dan itu membuat mereka sibuk berdebat, bertengkar, serta beradu argumen dan rivalitas."

Belajar Ilmu Dari Alam

Disadari ataupun tidak, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan banyak gambaran pada manusia lewat ciptaanNYA. Tetapi kebanyakan manusia ‘tidak berpikir’ sehingga keberadaan alam ciptaanNYA ini kelihatan biasa-biasa saja.