Sabtu, 25 Agustus 2018

Kita Perlu Banyak Menyimak Sebelum Mulai Bicara, dan Perlu Banyak Membaca Sebelum Mulai Menulis...

Semoga kita digolongkan bersama Ulul Albab dalam Surah azZumar berikut ini:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُواْ الألْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Jalan Dakwah Para Wali

Film karate Kid, Jacky Chen menyebutkan bahwa kung fu adalah menyangkut hidup. Kung Fu bukan jurus, bukan soal berkelahi, tetapi kungfu adalah soal bagaimana hidup. oleh karena itu, kungfu bisa ditemui saat memasak, bercocok tanam, berolahraga, makan, dan sebagainya.
 
Prinsip seperti ini dulu para wali memegangnya dalam memaknai jalan dakwah. Dakwah itu bukan soal berdalil, menghafal ayat2 suci, menyampaikan hukum halal haram, tetapi dakwah adalah jalan hidup itu sendiri.

Islam Mayoritas Ataukah Mayoritas Islam?

Islam Itu Bukan Hanya Tentang Mesjid Semata
Islam Itu Bukan Hanya Tentang Adzan Semata
Islam Itu Bukan Hanya Tentang Toa Semata
Islam Itu Bukan Hanya Tentang Sorban Semata
Islam Itu Bukan Hanya Tentang Tasbih Semata
Islam Itu Bukan Hanya Tentang Jubah Semata

Jumat, 24 Agustus 2018

Lirik & Terjemah Nasyid Air Mata Anak Yatim [ يَا دَمْعَتِ الْيَتِيْمَة ]

يَا دَمْعَتِ الْيَتِيْمَة ...يَا أَحْرُفِيْ اْلأَلِيْمَة
Air mata anak yatim.. kata-kata yang menyayat hati
مَاتَ أَبِيْ فَقُوْلِيْ ...لِلْأَنْفُسِ الرَّحِيْمَة
Ayahku telah wafat maka katakanlah.. kepada jiwa-jiwa yang penyayang

Selasa, 21 Agustus 2018

Kalimat "Allahu Akbar" Saat Takbir Hari Raya Dibaca 3x Atau 2x ??

Kalau saya sejak kecil baik di kampung kelahiran, di pesantren hingga saat ini berdomisili di Surabaya, selalu membaca kalimat Allahu Akbar dalam Takbiran sebanyak 3x. Namun di kota ini pula kadang saya mendengar Allahu Akbar dikumandangkan 2x. Saya husnudzan saja sama-sama punya dalil. Ternyata betul, kedua riwayat itu disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/462. Berikut ulasan beliau:

Senin, 20 Agustus 2018

Puasa Arofah Harus Sesuai Dengan Hari Wukuf Di Arofah?

Nabi shalallahu alaihi wasallam hanya melaksanakan ibadah haji 1x, sekaligus disebut haji wada'. Maka wukuf Arofah yang dilakukan oleh Nabi juga hanya sekali. Tahun-tahun sebelum Nabi haji wada' sudah diketahui oleh para Sahabat bahwa Nabi berpuasa pada 9 Dzulhijjah:

Jumat, 17 Agustus 2018

Mensyukuri Kemerdekaan

Kita patut bersyukur bahwa negara kita, Indonesia, cukup aman dibanding sebagian negara di belahan lain dunia. Umat Islam di sini dapat menjalankan ibadah dan menuntut ilmu agama dengan tenang kendatipun berbeda-beda madzhab dan kelompok. Kita juga relatif bebas dari kekangan di Tanah Air dalam menjalankan hidup sehari-hari. Udara kemerdekaan ini adalah karunia besar dari Allah subhanahu wata’ala.Jangan sampai kita baru merasakan kenikmatan luar biasa ini setelah rudal-rudal berjatuhan di sekeliling kita, tank-tank perang berseliweran, tempat ibadah hancur karena bom, atau konflik berdarah antara-saudara sesama bangsa.

Jumat, 10 Agustus 2018

Nabi Tidak Pernah Tersesat, Segera Tinggalkan Para Ustadz Hijrah

KH. Ahmad Ishomuddin

Sudah seringkali saya ingatkan agar setiap umat Islam berhati-hati agar mengambil ilmu agama langsung dari para ahlinya, yakni dari para ulama, kyai, ustadz, tuan guru, yang jelas mata rantai pengambilan ilmunya (isnad), telah populer akan kedalaman ilmunya dan kesalehannya. Jangan belajar justru secara kepada sembarang ustadz atau ustadz yang sembarangan. Karena kini sebagian umat Islam sudah gampang memberi predikat ustadz kepada siapa saja yang pintar ceramah agama, pintar membual soal agama dan politik sambil sesekali melawak atau menghibur para pendengarnya, dan "berani" mengecam sana sini. Persoalan yang mereka panggil ustadz itu pada hakekatnya sungguh tidak paham ilmu-ilmu agama tidak menjadi masalah, karena mereka yang menggelarinya juga tidak paham.

Berkorban untuk kemerdekaan, BerQurban sebagai wujud keimananan dan Ketaatan

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ الْاِنْسَانَ بِكَمَالِ النِعْمَةِ, وَخَلَقَهُ فِى الدُّنْيَا بِأَنْوَاعِ التَكْلِيْفِ لِإِيـْجَادِ الْمَصْلَحَةِ الَّتِى هِيَ مَدَارُ هِمَّةِ الْأُمَّةِ, اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى النِعَمِ الَّتِى اَنْزَلَـهَا عَلَى سَائِرِ الْاُمَّةِ مِنْهَا وُجُوْدِ الْإِسْتِقْلاَلِيَّةِ الخَالِصَةِ فِى بَلْدَتِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَا الْمَرْغُوْبَةِ, اَشْهَدُ أَنْ لآ إلَهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّـنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِيْ خَآصَّ بِالشَّفَاعَةِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللهِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هُدَاهُ, إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. اَمَّا بَعْدَهُ: فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوْا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ, وَنَهَاكُمْ بِالظُّــلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ.

Ayyuhal Hadhirun Rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah Azza wa Jalla. Taqwa yang juga menjadi wujud syukur kita kepada Allah atas segala  nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada kita. Nikmat Iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan juga nikmat kemerdekaan.
Dibulan Agustus ini terdapat dua peristiwa, yaitu Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Idul Adha yang mengandung makna tersirat dari prosesi qurban dan pengorbanan. Berkorban untuk kemerdekaan, dan BerQurban sebagai wujud keimanan dan bentuk Ketaatan kepada Allah SWT. Kita memang perlu mengingat dan menghikmahi kembali peristiwa Idul Adha dan para Pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai satu kesatuan iman yang utuh.

Anatomi Radikalisme di Indonesia

M Kholid Syeirazi - Sekretaris Jenderal PP ISNU

Tulisan ini akan melacak akar ideologi radikalisme yang pada intinya adalah Islam sebagai ideologi politik dengan jargon الاسلام هو الدين والدولة وليس الدين والامة فقط: Islam itu agama dan negara, bahwa Islam itu sistem politik. Islam bukan sekadar agama dan umat, bukan hanya ajaran dan masyarakat. Tanpa Negara Islam, hukum Islam tidak bisa tegak. Tanpa hukum Islam yang total, Islam cacat dan seorang Muslim murtad begitu berhenti memperjuangkan formalisasi syariat.
Karena tulisan ini panjang, saya akan pecah menjadi tujuh bagian, dengan urutan subjudul sbb.
Seri-1 Pengantar
Seri-2 DI/NII: Keluar dari Konsensus
Seri-3 Penetrasi Salafisme
Seri-4 Generasi Harbi Pohantun dan Infishâl
Seri-5 Jihad Pasca Afghanistan
Seri-6 Dari JI ke JAT, Dari JAT ke JAD
Seri-7 Penutup
Tulisan ini semi-akademis, dengan referensi yang saya taruh di catatan perut. Daftar referensinya bisa dilihat di bagian penutup. Dari tulisan ini, kita akan memperoleh gambaran bahwa terorisme yang marak sekarang punya akar sejarah panjang dan terhubung dengan pergolakan Islamisme di Timur Tengah.
Semoga bermanfaat.