Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia
dengan anggota jutaan orang, dan dipimpin oleh para ulama dan akademisi (bukan
dai, motivator, atau mualaf), yang ahli ilmu-ilmu keislaman tradisional, saya
kira wajarlah bila sering terjadi ikhtilaf atau perbedaan sikap di antara para
ulama NU mengenai persoalan-persoalan politik mutakhir (dulu Gus Dur pernah
menulis esai tentang perbedaan sikap Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri
Syansuri terhadap Demokrasi Terpimpin yang diberi judul jenaka, "Sulit
Masuknya, Mudah Keluarnya"). Toh, NU itu
kumpulannya para ulama yang percaya pada diktum "ikhtilafu ummati
rahmah," bukan organisasi militer yang harus satu kata dalam segala hal.
Yang berisik itu kan orang-orang luar NU yang ingin ormas besar ini berada di
pihak mereka. Maka, bila sejumlah ulama NU mengeluarkan pendapat yang cocok
buat mereka, ramai-ramailah mereka 'mendadak NU'. Tapi begitu ulama NU yang
lain mengeluarkan pendapat yang tak cocok dengan kepentingan mereka,
meluncurlah serapah, makian, dan cacian.
Senin, 03 April 2017
Ilmu Yang Bermanfaat Itu Apa Sih?
Ilmu yang bermanfaat itu apa sih? Kalau
dalam rumusan al-Ghazali di Bidayat al-Hidayah, ilmu yang bermanfaat itu adalah
ilmu "yang menambah rasa takutmu kepada Allah, membuka matamu akan
kekurangan-kekurangan dirimu sendiri, menambah pengetahuanmu tentang cara
menyembah Tuhanmu, mengurangi cinta kepada dunia, menambah cinta kepada
akhirat, membuka matamu akan cacat-cacat dalam amalan-amalanmu sehingga Engkau
dapat berhati-hati darinya, membuatmu peka terhadap jebakan-jebakan dan tipu-daya setan, tipuannya terhadap ulama su'
sehingga mereka patut mendapat kebencian dan murka Allah, karena mereka
menggunakan agama untuk menikmati dunia, menjadikan ilmu sebagai sarana untuk
mendapatkan kekayaan dari penguasa, menggelapkan harta wakaf, orang-orang
miskin, dan anak-anak yatim, dan mengarahkan seluruh energi mereka sepanjang
hari untuk meraih jabatan dan prestise di hati masyarakat, dan itu membuat
mereka sibuk berdebat, bertengkar, serta beradu argumen dan rivalitas."
Belajar Ilmu Dari Alam
Disadari ataupun tidak, GUSTI ALLAH senantiasa
memberikan banyak gambaran pada manusia lewat ciptaanNYA. Tetapi kebanyakan
manusia ‘tidak berpikir’ sehingga keberadaan alam ciptaanNYA ini kelihatan
biasa-biasa saja.
Kamis, 30 Maret 2017
Perdebatan Soal Tafsir Itu Panjang, Awas Jangan Salah Terap Tafsir
Belajar Al-Quran tidak bisa instan. Tak cukup
hanya andalkan terjemahan. Perlu proses panjang, konsistensi, ketekunan,
kesabaran. Lukman H. Saifuddin
Apakah Para Sahabat Utama Itu Menyelisihi Keteladanan Rasulullah?
Banyak orang Islam berusaha
meniru Nabi secara harfiah
dengan menafikan hakikatnya
lantas terjebak pada penyeragaman
atas segala perilaku sehari-harinya
Kata Mutiara Tentang Pencari Ilmu
Penyakit santri / murid yang
paling buruk adalah menyepelekan guru, ustadz / kyainya setelah mendapatkan guru yang
lebih baik. Hasil yang didapatkan kemudian lebih mendalam itu bukan untuk
membanding-bandingkan antar guru, tetapi untuk menguatkan pemahaman dari guru
sebelumnya (Al Habib M. Luthfi bin Yahya)
Dawuh Mbah Maimoen Tentang Larangan Menghina Orang Munafiq Bahkan Iblis
Romo KH. Maimoen Zubair atau sering disebut
Mbah Moen pernah mengatakan begini; Hajjaj ats-Tsaqafi, siapa yang tidak kenal
panglima perang Dinasti Bani Umayyah ini, panglima yang dikecam banyak sahabat
dan tabi’in karena kekejamannya. Ketika bercerita tentang (diantara kekejaman)
beliau, Mbah Mun dawuh: “Jangan (ikut-ikutan) menghina Hajjaj! Meskipun dia
begitu, tapi kalau bukan karena jasanya tentu kita sekarang tidak bisa baca
al-Quran, karena beliaulah yang mengeluarkan perintah memberi tanda baca
al-Quran sehinga mudah dibaca”.
Langganan:
Postingan (Atom)