Tampilkan postingan dengan label Keunikan B. Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keunikan B. Jawa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

Belajar "kehidupan" dari PUNOKAWAN

Dalam dunia pewayangan istilah sedulur papat lima pancer merupakan simbolisasi ksatria dan empat abdinya. Sedulur papat adalah punokawan, lima pancer adalah ksatriya.
Dalam hal ini, yang dinamakan punokawan yakni Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk dan Bagong sebagai pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran mereka seringkali hanya dianggap sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.

Jumat, 15 Desember 2017

Filosofi Hidup Jawa 5T

Takon, teken, teteg, tekun, tekan. Kurang lebih, takon itu jangan malu bertanya. Teken berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Teteg itu tidak goyah atau tidak gampang menyerah. Tekun ya tekun dalam belajar, lalu tekan itu kalau empat hal itu sudah dilakukan maka yang diinginkan tercapai...

Rabu, 20 September 2017

Nandur Islam Ing Tanah Jowo Teko Qur’an

Piwulange Poro Wali biyen, nyebut Allah ben ra kethoro disebut GUSTI PENGERAN, Rosulullah disebut KANJENG NABI, Sholat ben ra kethok dijenengke SEMBAHYANG, Musholla jenengke LANGGAR, Syeikh utowo Ustadz jenengke KYAI, Tilmidzun Muridun jenengke SANTRI, Kalimat Syahadat jenengke KALIMOSODO, Syahadatain jenengke SEKATEN. Nuturi masyarakat ora gowo arab nanging nganggo coro isyaroh pokok kenek ditompo. Pingin dadi wong apik, cukup dituturi “Hai, ojo lali jempol yo” ngono thok. Jempol iki apik, ora sampurno yen ora ono jenthik. JENTHIK iku maknane ojo othak athik barange liyan, ojo nyolongan. Dadi wali biyen ora perlu dalili “As-sariqu was-sariqotu faqtho’u aidiyahuma” utowo dihaditsi “Lau Anna Fathimata – Binti - saroqot laqotho’tu yadaha”.

Senin, 20 Februari 2017

Filosofi Bilangan Dalam Jawa.

Dalam bahasa Indonesia : 21 Dua Puluh Satu, 22 Dua Puluh Dua,...s/d 29 Dua Puluh Sembilan. Dalam bhs Jawa tidak diberi nama Rongpuluh Siji, Rongpuluh Loro, dst; melainkan Selikur, Rolikur,...s/d Songo Likur.
Di sini terdapat satuan LIKUR Yang merupakan kependekan dari (LIngguh KURsi), artinya duduk di kursi.
Pada usia 21-29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “TEMPAT DUDUKNYA”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya;
Ada penyimpangan pada bilangan 25, tidak disebut sebagai LIMANG LIKUR, melainkan SELAWE.

Kamis, 16 Februari 2017

"Ora Ilok"

Bentuk ungkapan ora ilok berupa :
1.   Larangan.
Ungkapan ‘ora ilok’ dalam bahasa Indonesia berarti ‘tidak baik’ merupakan ungkapan dengan tujuan untuk melarang penutur kepada mitra tuturnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan yang tidak baik.