Kalau saya sejak kecil baik di kampung
kelahiran, di pesantren hingga saat ini berdomisili di Surabaya, selalu membaca
kalimat Allahu Akbar dalam Takbiran sebanyak 3x. Namun di kota ini pula kadang
saya mendengar Allahu Akbar dikumandangkan 2x. Saya husnudzan saja sama-sama
punya dalil. Ternyata betul, kedua riwayat itu disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu
Hajar dalam Fathul Bari 2/462. Berikut ulasan beliau:
Selasa, 21 Agustus 2018
Senin, 20 Agustus 2018
Puasa Arofah Harus Sesuai Dengan Hari Wukuf Di Arofah?
Nabi shalallahu alaihi wasallam hanya
melaksanakan ibadah haji 1x, sekaligus disebut haji wada'. Maka wukuf Arofah
yang dilakukan oleh Nabi juga hanya sekali. Tahun-tahun sebelum Nabi haji wada'
sudah diketahui oleh para Sahabat bahwa Nabi berpuasa pada 9 Dzulhijjah:
Jumat, 17 Agustus 2018
Mensyukuri Kemerdekaan
Kita patut bersyukur bahwa negara kita,
Indonesia, cukup aman dibanding sebagian negara di belahan lain dunia. Umat
Islam di sini dapat menjalankan ibadah dan menuntut ilmu agama dengan tenang
kendatipun berbeda-beda madzhab dan kelompok. Kita juga relatif bebas dari
kekangan di Tanah Air dalam menjalankan hidup sehari-hari. Udara kemerdekaan
ini adalah karunia besar dari Allah subhanahu wata’ala.Jangan sampai kita baru
merasakan kenikmatan luar biasa ini setelah rudal-rudal berjatuhan di
sekeliling kita, tank-tank perang berseliweran, tempat ibadah hancur karena
bom, atau konflik berdarah antara-saudara sesama bangsa.
Jumat, 10 Agustus 2018
Nabi Tidak Pernah Tersesat, Segera Tinggalkan Para Ustadz Hijrah
KH. Ahmad Ishomuddin
Sudah seringkali saya ingatkan agar setiap umat
Islam berhati-hati agar mengambil ilmu agama langsung dari para ahlinya, yakni
dari para ulama, kyai, ustadz, tuan guru, yang jelas mata rantai pengambilan
ilmunya (isnad), telah populer akan kedalaman ilmunya dan kesalehannya. Jangan
belajar justru secara kepada sembarang ustadz atau ustadz yang sembarangan.
Karena kini sebagian umat Islam sudah gampang memberi predikat ustadz kepada
siapa saja yang pintar ceramah agama, pintar membual soal agama dan politik
sambil sesekali melawak atau menghibur para pendengarnya, dan
"berani" mengecam sana sini. Persoalan yang mereka panggil ustadz itu
pada hakekatnya sungguh tidak paham ilmu-ilmu agama tidak menjadi masalah,
karena mereka yang menggelarinya juga tidak paham.
Berkorban untuk kemerdekaan, BerQurban sebagai wujud keimananan dan Ketaatan
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ الْاِنْسَانَ بِكَمَالِ
النِعْمَةِ, وَخَلَقَهُ فِى الدُّنْيَا بِأَنْوَاعِ التَكْلِيْفِ لِإِيـْجَادِ الْمَصْلَحَةِ
الَّتِى هِيَ مَدَارُ هِمَّةِ الْأُمَّةِ, اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ
عَلَى النِعَمِ الَّتِى اَنْزَلَـهَا عَلَى سَائِرِ الْاُمَّةِ مِنْهَا وُجُوْدِ الْإِسْتِقْلاَلِيَّةِ
الخَالِصَةِ فِى بَلْدَتِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَا الْمَرْغُوْبَةِ, اَشْهَدُ أَنْ لآ
إلَهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّـنَا وَسَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِيْ خَآصَّ بِالشَّفَاعَةِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ابْنِ عَبْدِ اللهِ, وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هُدَاهُ, إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. اَمَّا بَعْدَهُ:
فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوْا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالطَّاعَةِ
وَالْعِبَادَةِ, وَنَهَاكُمْ بِالظُّــلْمِ وَالْمَعْصِيَةِ.
Ayyuhal Hadhirun Rahimakumullah
Marilah kita
meningkatkan taqwa kita kepada Allah Azza wa Jalla. Taqwa yang juga menjadi
wujud syukur kita kepada Allah atas segala
nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada kita. Nikmat Iman, nikmat
Islam, nikmat kesehatan juga nikmat kemerdekaan.
Dibulan Agustus ini terdapat dua peristiwa, yaitu
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Idul Adha yang mengandung makna
tersirat dari prosesi qurban dan pengorbanan. Berkorban untuk kemerdekaan,
dan BerQurban sebagai wujud keimanan dan bentuk Ketaatan
kepada Allah SWT. Kita memang perlu mengingat dan menghikmahi kembali peristiwa
Idul Adha dan para Pejuang kemerdekaan Indonesia sebagai satu kesatuan iman
yang utuh.
Anatomi Radikalisme di Indonesia
M Kholid Syeirazi - Sekretaris Jenderal
PP ISNU
Tulisan ini akan melacak akar ideologi radikalisme yang pada intinya adalah Islam sebagai ideologi politik dengan jargon الاسلام هو الدين والدولة وليس الدين والامة فقط: Islam itu agama dan negara, bahwa Islam itu sistem politik. Islam bukan sekadar agama dan umat, bukan hanya ajaran dan masyarakat. Tanpa Negara Islam, hukum Islam tidak bisa tegak. Tanpa hukum Islam yang total, Islam cacat dan seorang Muslim murtad begitu berhenti memperjuangkan formalisasi syariat.
Karena tulisan ini panjang, saya akan
pecah menjadi tujuh bagian, dengan urutan subjudul sbb.
Seri-1 Pengantar
Seri-2 DI/NII: Keluar dari Konsensus
Seri-3 Penetrasi Salafisme
Seri-4 Generasi Harbi Pohantun dan Infishâl
Seri-5 Jihad Pasca Afghanistan
Seri-6 Dari JI ke JAT, Dari JAT ke JAD
Seri-7 Penutup
Tulisan ini semi-akademis, dengan
referensi yang saya taruh di catatan perut. Daftar referensinya bisa dilihat di
bagian penutup. Dari tulisan ini, kita akan memperoleh gambaran bahwa terorisme
yang marak sekarang punya akar sejarah panjang dan terhubung dengan pergolakan
Islamisme di Timur Tengah.
Semoga bermanfaat.
Kamis, 07 Juni 2018
Kumpulan Teks Syair Keagungan Ramadhan
الشَّهْرُ اْلعَظِيْمُ شَهْرُ الرَّمَضَانْ
* اَلشَّهْرُ اْلكَرِيْمْ جَاءَ بِاْلغُفْرَانْ
Bulan yang agung bulan ramadhan – Bulan mulia penuh ampunan
جَاءَ فِى اْلوَعْدِ اَنَّ لِلْفَرْحَانْ *
بِدُخُوْلِهِ وَجُوْبُ اْلِجنَانْ
Siapa yang senang masuk Ramadhan – Pastilah Syurga Allah janjikan
Langganan:
Postingan (Atom)