Minggu, 16 September 2018

Ikhtiyath Kalimat Tauhid, Tempatkan Kalimat Tauhid di Tempatnya

Topi Tauhid, Pembodohan Atas Nama Islam

Umat islam Indonesia mulai kehilangan identitas keislamannya. Mereka mau saja ditipu para pembohong seperti HTI dan ISIS terkait simbol-simbol keislaman. Orang-orang bodoh yang mengalami kejutan keimanan ini seperti kebo. Besar, nurut, tak bisa berpikir.
Islam mengalami proses asimilasi kebudayaan yang sangat panjang. Bahkan ketika Nabi masih hidup, proses itu terus terjadi sehari-hari. Ibadah-ibadah kita 60% nyontek agama sebelumnya. Islam bukan agama orisinil. Eksklusifisme bertentangan dengan sejarah ini. Islam itu moderat sejak awal berdirinya. 
Memang ada masanya, Nabi memberikan ciri fisik tertentu bagi umatnya. Misalnya, yang lelaki mencukur kumis dan memanjangkan jenggot. Yang perempuan merdeka menjulurkan jilbab ke dada mereka. Tapi semua itu politis. Supaya gampang dikenali waktu itu.
Sesudah itu ya bebas lagi. Apalagi ketika Islam berkembang ke seluruh dunia. Mustahil membendung dengan satu kebudayaan suku Arab.
Kaum radikal ini mulai memperdagangkan simbol-siimbol politis itu. Padahal tidak ada anjuran yang mewajibkan. Yang paling memprihatinkan, mereka mengaku itu dicontohkan oleh Nabi.
Misalnya soal bendera yang diklaim sebagai bendera Nabi. Itu semua hoax ala HTI. Tidak ada keterangan sahih yang menyebutkan, bendera Nabi bertuliskan kalimat tauhid (lailaha illallah muhammadur-rosulullah), dengan khat (jenis tulisan) yang sama. Riwayat mengenai bendera Nabi simpang-siur. Ada yang mengatakan hitam, putih, kuning. Dan tidak ada tulisannya.
Reka ulang yang dilakukan HTI, ISIS, termasuk bendera Saudi, itu hanya imajinasi mereka. Dan itu yang disakralkan oleh islam kagetan Indonesia. Mereka yang beragama baru sampai kulitnya.
Kemudian dari bendera fiksi tadi, turun pangkat jadi barang sehari-hari. Mereka membuat topi bertuliskan kalimat tauhid. Lalu menganggap, itu cara yang tepat untuk menghormatinya. Saya khawatir, nanti ada yang saking sangat kreatifnya, membuat celana dalam juga.
Sama seperti bendera fiksi tadi, Topi Tauhid itu akal-akalan orang jualan agama. Mereka melihat ceruk pasar yang besar, berisi orang fanatik. Asal ada embel-embel agama pasti laku.
Dengan memakai topi itu, bisa juga nanti ada orang berbuat dosa, kekerasan, maling, menggoda lawan jenis. Lalu di mana sakralnya kalimat tauhid itu nantinya?
Dalam tradisi pesantren, kyai-kyai itu tidak berani sembarangan menulis kalimat tauhid. Itu karena mereka sangat hati-hati. Tidak ada pakaian kalimat tauhid, bendera kalimat tauhid, tembok digambari kalimat tauhid. Kalimat itu dibaca dengan hormat, dihayati dengan sepenuh hati. Bukan dipamerkan pada orang banyak. Ibadah macam apa yang penuh riya begitu?
Belum lagi kalau topi itu nanti terinjak, dicuci bareng celana dalam najis, diduduki karena tidak sengaja. Di mana sakralnya kalimat tauhid tadi?
Agama tanpa kesakralan ya bukan agama lagi.
Umat islam Indonesia mulai keblinger seperti umat islam Arab Saudi. Negara gebleg itu bikin uang satu riyal tulisannya kalimat tauhid. Seringkali uang satu riyal itu terbang dan terinjak-injak di jalan. Atau dia dimasukkan dompet dan dipantati. Bagi orang Arab itu tak masalah. Aidi, ma fi musykilah, biasa saja, tak masalah.
Yang lebih gebleg lagi, mereka ikut kontes putri kecantikan dengan busana bendera negara, yang ada kalimat tauhidnya. Tubuh seksi itu dibalut dengan tulisan la ilaha illa-llah, muhamadur-rasulullah. Bagi mereka itu aidi, biasa saja. Sama seperti mereka pegang kepala, biasa saja. Tidak ada sakralnya. Namun bagi kita orang Indonesia, itu penghinaan.
Jadi identitas keindonesiaan inilah yang mulai luntur. Kehati-hatian, penghormatan, penghidupan, kalimat suci tauhid dalam hati itu lenyap. Berganti kekurangan-ajaran Timur Tengah. Mereka mengubahnya menjadi semata bentuk fisik, tapi tanpa nilai. Kesakralannya hilang.
Ini mirip mereka yang belajar agama di Timur Tengah, pulangnya petentang-petenteng pakai jubah. Lalu tunjuk sana tunjuk sini serba haram. Adabnya hilang. Hormatnya lenyap. Tahu dirinya musnah. Padahal adab itu maqomnya di atas ilmu.
Gerakan radikal itu memang sengaja bergerak dalam senyap. Mereka awalnya membelokkan cara pandang kebudayaan. Lalu membawa yang serba Timur Tengah itu sebagai gantinya.
Bagi orang Arab, Toub, jubah, itu pakaian adat, seragam resmi kalau masih sekolah. Tak ada urusannya dengan sunah. Mereka bahkan pernah keberatan ketika baju adat mereka dipakai orang Pakistan. Tapi di sini, itu disakralkan.
Sebaliknya, apa yang di Indonesia disakralkan, tidak boleh ditulis sembarangan, malah dibikin receh, seperti Topi Tauhid itu. Mereka jualan atas nama agama. Tak peduli lagi dengan kesakralannya.
Ini sebenarnya persoalan serius, pergeseran kebudayaan menuju ilusi keagamaan. Tidak ada dalilnya itu. Mereka berimajinasi, Islam jaman Nabi begitu. Padahal Islam yang berkembang di Indonesia itu sudah difilter oleh kebudayaan kita. Islam paling cocok untuk kita terapkan ya seperti ajaran Wali Songo.
Topi Tauhid itu pembodohan atas nama Islam. Domba-domba fanatik buta itu digiring, sebagai konsumen kebudayaan palsu, yang diberi stempel Islam. Lakinya jenggotan, perempuannya seperti ninja. Yang muda pakai Topi Tauhid, celananya cingkrang. Itu yang mereka sebut Islam jaman Nabi. 


Ikhtiyath Kalimat Tauhid

Mengapa kita jarang sekali temukan lambang-lambang bertorehkan kalimat tauhid di acara-acara lingkungan pesantren? Lihat saja saat ada pagelaran imtihan, haflah, haul, pawai ta'aruf, istighotsah, maulid akbar, atau sejenisnya. Jarang sekali kita lihat kalimat tauhid tercetak di bendera, spanduk, kaos, peci, koko, sorban, apalagi ikat kepala.
Mengapa? Bukankah kalimat tauhid itu luhur? Apakah kalangan pesantren kurang ghirah keislamannya? Apakah mereka tidak bangga dengan ketauhidannya? Atau jangan-jangan mereka tidak suka kalimat tauhid?
Sebelum Anda menerka yang tidak-tidak, ada satu hal yang musti dipahami. Justru para kiai dan santri itu mungkin lebih akrab dengan kalimat tauhid daripada kita yang setiap hari pakai ikat kepala bertoreh lafal tauhid. Selain dikumandangan lima kali sehari saat adzan, kalimat tauhid juga diwiridkan dan diendapkan di alam bawah sadar mereka secara berjamaah tiap usai sembahyang.
Afdhaludz-dzikri fa'lam annahu; laa ilaaha illallaah. Diwiridkan serempak oleh imam dan makmum, ada yang 40 kali, 70 kali, atau 100 kali, kemudian dipungkasi dengan; 'muhammadur-rasuulullaah'. Demikian lima kali sehari, belum lagi jika ada yang mengamalkan wirid tahlil tambahan.
Kalau demikian, mengapa jarang sekali terlihat simbol-simbol kalimat tauhid di gelaran-gelaran mereka?
Saya tidak berminat membahas gegeran simbol kalimat tauhid yang lagi ramai belakangan. Tidak pula hendak membahas penggunaan bendera tauhid sejak masa Rasulullah, para sahabat, hingga peran politisnya di masa kini. Ini hanya tulisan ringan yang sekedar menguak satu 'tradisi' kaum pesantren berkaitan dengan pelabelan kalimat tauhid. Yaitu tradisi ikhtiyath; kehati-hatian fikih.
Ikhtiyath bisa kita sebut sebagai tradisi moral kalangan santri dalam berfikih. Ikhtiyath inilah yang membuat mereka membuat kobokan kaki di luar tempat wudhu sebelum masuk masjid, memilih pakai mukenah terusan daripada potongan, pelafalan niat sebelum takbirotul ihrom, koor niat puasa setelah taraweh, memakai sandal khusus dari toilet ke tempat salat di rumah.
Apalagi dalam kaitannya dengan kalimat tauhid. Ada kehati-hatian fikih bagi kalangan santri agar tidak sembrono meletakkan kalimat suci tersebut di sembarang tempat. Bagi santri, kalimat tauhid adalah jimat dunia akhirat yang sangat luhur. Ia tidak boleh tercecer, tergeletak, terbuang, atau bertempat di lokasi kotor apalagi najis.
Jika ia dicetak di sandangan semisal kaos, baju, topi, atau bandana, dikuatirkan bisa bercampur najis ketika dicuci. Jika dicetak di spanduk-spanduk atau bendera temporer, dikuatirkan akan tercampakkan sewaktu-waktu. Kalau dicantumkan di lambang pesantren, akan menyulitkan saat membuat undangan, kartu syahriyah, baju almamater, dan lainnya. Apalagi jika dicetak di stiker-stiker. Di tempat-tempat tersebuy, kalimat tauhid bisa sangat rawan terabaikan.
Bagi kalangan pesantren, kalimat tauhid hanya boleh dicantumkan di tempat-tempat spesial yang sekiranya bisa terjaga kehormatannya. Semisal panji peperangan yang tentu akan dijaga kibarannya hidup atau mati. Sebagaimana kisah dramatis Sayyidina Ja'far at-Thayyar. Atau bendera kerajaan yang tentu akan dirawat dan dimuliakan, sebagaimana bisa kita lihat di kasunanan Cirebon.
Almarhum simbah Kiai Zainal Abidin termasuk sosok yang sangat ketat dalam hal ikhtiyath perkara tauhid. Beliau selalu tutup mata jika lewat Jalan Magelang yang di kiri kanannya penuh patung-patung 'makhluk bernyawa'. Beliau selalu berpaling kalau ada tanda palang salib, juga tidak berkenan dengan atribut-atribut semacam akik atau yang identik dengan perjimatan. Ngregeti iman, kata beliau. Kalimat tauhid tidak lagi berkibar di spanduk atau ikat kepala, melainkan sudah terpatri kuat di dalam sanubari beliau.
Kalimat tauhid, bagi Mbah Zainal, sama sucinya dengan mushaf Quran. Bahkan saya menyaksikan sendiri, dingklik (tatakan kayu) yang biasa digunakan untuk membaca Quran pun beliau muliakan. Pernah suatu kali hendak salat jamaah isya di bulan Ramadan, ada satu dingklik yang tergeletak di belakangku. Ketika beliau lewat, dingklik itu beliau pindah ke sampingku agar tidak kubelakangi.
Bahkan tulisan 'almunawwir' pun sangat beliau muliakan, sebagaimana dikisahkan oleh Kang Tahrir, santri ndalem Mbah Zainal. Memang lazim di Krapyak, kami membuat stiker kecil bertulis 'almunawwir community'. Fungsi stiker ini untuk menandai kendaraan santri sehingga mudah dikenali. Biasanya dipasang di spidometer, plat nomor, atau body sepeda motor.
Nah, menurut penuturan Kang Tahrir, Mbah Zainal tidak berkenan jika melihat ada nama 'almunawwir' kok dipasang di slebor, lebih rendah dari lutut, atau tempat-tempat lain yang kurang pantas. Biar bagaimanapun, 'almunawwir' adalah nama pesantren sekaligus nama pendirinya yang merupakan ulama besar ahli Quran Nusantara, simbah Kiai Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad.
Demikian hati-hatinya sikap beliau terhadap nama 'almunawwir'. Lebih-lebih terhadap ayat-ayat Quran, hadits Nabi, dan kalimat tauhid. Maka bagi teman-teman yang sedang hobi menunjukkan identitas keislaman dengan atribut berlabel kalimat tauhid, mohon dijaga dengan baik agar benda-benda tersebut tidak tercampakkan. 


Tempatkan Kalimat Tauhid di Tempatnya.

Warga NU melatih menempatkan KALIMAT TAUHID di 7 titik dalam tubuhnya. Bukan di topi, bendera atau spanduk yang bisa saja terbuang, tercecer, bahkan terinjak.
Tujuh titik dalam tubuh :
1. Lathifatul Qolbi (Jantung)
2. Lathifatur Ruh (Dua jari di bawah susu kanan)
3. Lathifatus Sirri (Dua jari di atas susu kiri)
4. Lathifatul Khofy (Dua jari di atas susu kanan)
5. Lathifatul Akhfa (Tengah dada)
6. Lathifatun Nafsi Natiqoh (Tengah kening)
7. Lathifatu Kullu Jasad (Seluruh anggota tubuh)
Bedanya adalah melatih menempatkan KALIMAT TAUHID di 7 titik dalam tubuh untuk TAQORUB ILALLOH dan menghilangkan semua nafsu AMAROH yg bersemayam di tubuh manusia. Dan berguru pada GURU yang sanad Dzikirnya tersambung dengan BAGINDA ROSUL.
Sebaliknya, bisa jadi yang menempatkan KALIMAT TAUHID di spanduk, bendera dan topi serta baju justru karena nafsu. 


Kalimat Tauhid Yang Mestinya Diagungkan

Bukan kami anti pada kalimat Tauhid. Sebab setiap selesai shalat kami membaca La Ilaha Illa Allah dengan suara keras. Jika ada orang wafat kami kami antar ke pemakaman dengan La Ilaha Illa Allah. Malamnya kami Tahlili dengan La Ilaha Illa Allah. Dzikir Thariqah pun ratusan kali kami baca La Ilaha Illa Allah.
Tapi kami tidak pernah menggunakan kalimat Tauhid untuk politik, merebut kekuasaan dan mengganti negara dengan simbol Tauhid. Terlebih dari mereka menginjak-injak kalimat Tauhid.
Imam An-Nawawi berkata dalam Minhajut Thalibin:

Bukan kami anti pada kalimat Tauhid. Sebab setiap selesai shalat kami membaca La Ilaha Illa Allah dengan suara keras. Jika ada orang wafat kami kami antar ke pemakaman dengan La Ilaha Illa Allah. Malamnya kami Tahlili dengan La Ilaha Illa Allah. Dzikir Thariqah pun ratusan kali kami baca La Ilaha Illa Allah.
Tapi kami tidak pernah menggunakan kalimat Tauhid untuk politik, merebut kekuasaan dan mengganti negara dengan simbol Tauhid. Terlebih dari mereka menginjak-injak kalimat Tauhid.
Imam An-Nawawi berkata dalam Minhajut Thalibin:
ﻭاﻟﻔﻌﻞ اﻟﻤﻜﻔﺮ ﻣﺎ ﺗﻌﻤﺪﻩ اﺳﺘﻬﺰاء ﺻﺮﻳﺤﺎ ﺑﺎﻟﺪﻳﻦ ﺃﻭ ﺟﺤﻮﺩا ﻟﻪ ﻛﺈﻟﻘﺎء ﻣﺼﺤﻒ ﺑﻘﺎﺫﻭﺭﺓ
"Perbuatan yang dapatkan menyebabkan kufur adalah kesengajaan melakukan perbuatan tersebut dengan bentuk menghina secara terang-terangan dengan agama atau mengingkari terhadap agama, seperti melempar kotoran terhadap Al-Qur'an"
Kemudian diberi penjelasan lebih gamblang oleh Syekh Al-Qulyubi:
ﻭﺃﻟﺤﻖ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺑﻪ ﻭﺿﻊ ﺭﺟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ, ﻭﻧﻮﺯﻉ ﻓﻴﻪ ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻗﺮﺁﻥ، ﻭﻣﺜﻠﻪ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻛﻞ ﻋﻠﻢ ﺷﺮﻋﻲ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ اﺳﻢ ﻣﻌﻈﻢ, ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻟﺮﻣﻠﻲ ﻭﻻ ﺑﺪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﻗﺮﻳﻨﺔ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ اﻹﻫﺎﻧﺔ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ
"Sebagian ulama menyamakan bentuk meletakkan kaki di atas Al-Qur'an (namun) pendapat ini dibantah oleh ulama lain. Yang dimaksud Mushaf adalah lembaran yang berisikan Al-Qur'an. Demikian halnya kitab hadis, ilmu agama atau sesuatu yang tertulis nama yang diagungkan. Guru kami (Ar-Ramli) berkata: "Untuk selain Qur'an harus ada bukti yang menunjukkan bentuk penghinaan, jika tidak maka tidak sampai kufur" (Hasyiyah Qulyubi 4/177)

Sumber1Sumber2, Sumber3 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar