Kamis, 13 September 2018

Penjabaran Kata HIJRAH: terdiri dari 6 Huruf

Muqoddimah Khutbah Khusus Bulan Muharram


Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah…
Mari kita dalam memasuki tahun baru 1440 H ini dengan penuh keimanan, ketakwaan dan keikhlasan. Makna Hijrah adalah berpindah, berpindah dari maksiat menuju taat, berpindah dari rasa malas menuju rajin, dari sifat pesimis menuju optimis, berpindah dari keterpurukan menjadi semangat untuk maju, Hijrah menuju Allah dan Rasul, Hijrah dari kegelapan menuju terang benderang, Hijrah dari akhlak tercela ke akhlak terpuji, Hijrah dari budak nafsu duniawi menuju menjadi hamba Allah yang sejati.

Jama’ah Sidang Jum’at Rohimakumulloh…
HIJRAH terdiri dari 6 Huruf, apabila dijabarkan…
H = Hadirkan Allah disetiap waktu kita dan merasa kalau kita selalu dilihat diawasi oleh Allah, kalau merasa dilihat oleh Allah tentu akan takut untuk melakukan maksiat dan perbuatan dosa
I = Ikhlaskanlah apa yang kita lakukan, rumus ikhlas itu kerjakan–lupakan, jadi jangan pernah diingat-ingat lagi amal baik kita, biarkan saja, terserah Allah saja. Yang penting kita berbuat baik semata-mata mencari ridlo Allah SWT.
J = Jauhi segala macam yang Allah benci, kenapa… kalau kita melalukan apa yng dibenci Allah SWT, berarti kita mengundang marah-murka-Nya Allah
R = Raih Ridlo Allah dengan 3 cara,
1.    Asholatu ‘ala waqtiha (sholat tepat waktu)
2.    Birrul walidain (mencitai-berbakti kepada Orang Tua)
3.    Jihad Fi sabilillah (bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mencoba sebaik mungkin tuk meneladani Rasul)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُود رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: ” سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله (رواه البخاري)
A = Amal baik sekecil apapun jangan pernah disepelekan, melihat sampah berserakan, ambil-buang, dan banyak lagi amal-amal yang lainnya
H = Hadiahnya adalah surga, ketika kita ingin masuk surga…taatilah semua perintah Allah, jauhi semua larangannya dan hidup bersama damainya dalam cinta dan kasih sayangnya Allah SWT

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rohimakumulloh…
Tahun baru Islam menjadi  momentum intropeksi bagi setiap individu manusia guna memperbaiki kualitas diri yang pada gilirannya mengantarkan umat pada kemajuan dan kejayaannya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Qur’an:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (QS. Ar-Ra’du: 11)
Selama suatu kaum enggan melakukan evaluasi diri dan membenahi kekurangan, kemunduran serta ketertinggalannya, maka Allah swt. tidak akan menjadikan mereka umat yang maju. Perubahan pemimpin, pergantian presiden, bahkan imam masjid seperti imam tarawih dibulan ramadhan ataupun lingkungan tidak akan bisa merubah seseorang jika tidak ada niatan dari dirinya sendiri.
Tahun Baru Islam dengan spirit perubahan dan kemajuan ini harus ditanamkan agar kita dan bangsa ini semakin maju, optimisme dikalangan kita dan bangsa Indonesia harus terus-menerus digelorakan.  Semangat hijrah mulai dari jiwa, pikiran atau pandangan, semangat serta tekad yang disertai bekerja lebih keras harus dibudayakan dikalangan kita sebagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Mari kita jadikan muhasabah ditahun baru hijriyah ini sebagai sarana peningkatan kualitas taqwa, iman, dan amal soleh.

Hadirin Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah…
Para ulama sudah mengklasifikasikan jenis amalan yang hendaknya diperbanyak selama bulan Muharram yaitu; 1) melakukan shalat, 2) berpuasa, 3) menyambung silaturrahim, 4) bershadaqah, 5) mandi, 6) memakai celak mata, 7) berziarah kepada ulama (baik yang hidup maupun yang meninggal), 8) menjenguk orang sakit, 9) menambah nafkah keluarga, 10) memotong kuku, 11) mengusap kepala anak yatim, 12) membaca surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali. Untuk mempermudah ingatan, sebagian ulama mengawetkannya dalam bentuk nadham yang dinukil As-Syaikh Abdul Hamid dalam kitabnya Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur:
فِى يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْـنَـتَانِ وَلَـهَا فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

Semoga Bermanfaat, Wallohu A'lam Bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar