Selasa, 18 September 2018

Tidak Semua Ustadz Itu Ulama

Siapa pun bisa jadi ustadz, apakah dia pelawak, artis sinetron, motivator, mantan napi, muallaf, guru TPA, penyanyi dangdut dst.
Asalkan si pembawa acara (mc) menyebut namanya pakai gelar ustadz, ya jadilah dia ustadz.
So, lobang hidung kita tidak perlu melebar dulu kalau baru sekedar dipanggil ustadz. Siapa saja bisa jadi ustadz kok.
Yang sulit dan harus ada referensinya itu adalah gelar ulama. Setidaknya atau salah satu tolok ukurnya adalah latar belakang pendidikan resminya yang akan bicara.
Pak ustadz dulu kuliah S1, S2 atau S3-nya ambil bidang apa? Kampusnya apa? Selesai apa nggak? Apa judul karya tulis ilmiyahnya?
Meski keulamaan bukan semata gelar akademik, tapi setidaknya ada kaitannya.
Bicara hadits doaf-doif, tapi belum pernah duduk di bangku kuliah fakultas hadits? Hmm kayak ada yang janggal, kan?
Bicara halal haram, tapi belum pernah duduk di bangku fakultas syariah? Wah, rada aneh juga.
Bicara tafsir ayat ini begini ayar itu begitu, tapi belum pernah duduk di bangku kuliah fakultas Ilmu Al-Quran? Hhh lucu aja.
Bedah perut ibu hamil, tapi belum pernah kuliah kedokteran, ya masuk penjara lah.
Kalau sekedar jadi ustadz, silahkan saja. Tapi kok ngaku ulama, ya nanti dulu. Kalau ngaku sbg dukun atau pengobatan alternatif, silahkan saja. Asal jangan ngaku sbg dokter spesialis. Itu kriminal bab penipuan.

Sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar