Setiap penganut agama di dunia ini mempunyai
sebuah kitab yang dianggapnya sebagai kitab suci. Orang Hindu mempunyai Kitab
Wedha. Orang Budha mempunyai Kitab Tripitaka. Orang Yahudi mempunyai Kitab
Taurat. Orang Nasrani mempunyai Kitab Injil. Penganut Konghucu mempunyai Kitab
Tautehking. Orang Majusi mempunyai Kitab Zenavesta. Orang Kebatinan mempunyai
Kitab Serat Centani, Hidayat Jati, Darmo Gandul atau Gatoloco. Sementara kita,
orang Islam diberikan Kitab Al-Quran Al-Karim oleh Allah.
Minggu, 11 Juni 2017
Senin, 29 Mei 2017
Jauh Sebelum Syariat Sholat, Zakat, Jihad Diturunkan...
Jauh sebelum Syariat Sholat, Zakat, Jihad
diturunkan, Nabi telah mengajarkan kepada umat tentang kejujuran, memaafkan dan
silaturahim.
Jadi saat umat sadar Syariat ia sudah terlebih
dahulu berakhlak. Sebab betapa tidak pantasnya mengerjakan sholat tapi masih
suka mengumpat.
Mengeluarkan zakat dan Sedekah teratur, tapi
tidak jujur. Semangat soal jihad, tapi tak memiliki hati pemaaf.
Saat kaum Quraisy yg memusuhi Nabi kalah dan
Nabi bisa menaklukan Makkah, apa yg dikatakan? "Kalian semua merdeka"
tak ada dendam yg tersisa
Umat berbondong-bondong masuk Islam, karena
kagum pada ahlak Nabi Muhammad. Bukan karena kalah debat atau apalagi dipaksa
taubat.
Berapa Banyak Orang yang Harus....
Berapa banyak orang yang harus aku sakiti
hati dan fisiknya agar setuju dengan pendapatku tentang kebenaran?
Berapa banyak fitnah dan dusta yang harus
kusebarkan agar orang percaya kebenaran menurut pemahamanku?
Berapa banyak kebohongan dan berapa banyak ayat yang harus kujual untuk
menunjukkan bahwa aku yang paling benar?
Seberapa sering aku harus
membodoh-bodohkan dan nyinyirin orang lain agar khalayak percaya bahwa aku
paling alim?
Merasa Paling Baik & Benar
Karena merasa paling baik dan benar, kita
enggan mendengarkan pendapat pihak lain
yang boleh jadi menunjukkan sisi kekeliruan kita
Kita lalu hanya mau mendengar apa yang ingin
kita dengar hingga pada akhirnya kita hanya mau mendengar diri kita sendiri.
Karena enggan mengakui diri ini bisa salah,
lalu doa-doa kita menjadi bengis: kita mendoakan orang lain celaka, dilaknat
dan masuk neraka beriman kpd Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dgn menyebar fitnah dan benci sambil berharap
yg dibenci/difitnahnya masuk neraka.
Hati Nurani
Nurani sebenarnya berasal dari bhs Arab, yg
bersifat cahaya. Hati nurani adalah hati yg bercahaya merujuk makna lubuk hati
yg terdalam.
Al-Qur'an menggunakan bentuk plural zhulumat
untuk merujuk pada aneka kegelapan,
namun kata ‘nur’ selalu dipakai dlm bentuk singular.
Jumat, 26 Mei 2017
MEGENGAN
KH. A Mustofa Bisri mengatakan bahwa sekarang
sedang nge-trend orang pintar baru. Mereka memiliki setidaknya dua ciri utama.
Pertama, setiap bebicara menuntut adanya dalil. “Sedikit-sedikit ada dalilnya,
bahkan menuntut untuk adanya perincian dalil, misalnya ayat berapa, surat
berapa, apakah hadis shohih atau dhaif,” ujarnya.
Cari dalilnya megengan? Ya nggak ada! Mereka
berlagak ahlil dalil tapi tidak mampu mengimplementasikannya. Dianggapnya
tradisi megengan itu merupakan sebuah fenomena dari masyarakat sesat karena
dianggap tidak berdasar dalil.
Begitulah bedanya yang paling mencolok antara
muslim tekstualis/literalis dengan muslim
Nusantara/kontekstualis-substansialis.
Muslim Nusantara justru pandai mengemas
pesan-pesan wahyu yang bisa dikemas.
Senin, 24 April 2017
Gus Mus: “Renungan Rajab”
Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya,
atau setidaknya petinggi tertinggi propinsi kita, gubernur, kapan saja kita
mau?
Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house.
Nah ini Penguasanya petinggi yang Mahatinggi, Penguasa segala, mengadakan
open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba
sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Ia bahkan membuka pintu untuk kita
kapan saja. Tengah malam atau dini hari sekali pun, Ia menerima pesowanan kita.
Malah menawarkan, "Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun?
Adakah yang ingin meminta sesuatu?"
Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi KemahamurahanNya itu? Apakah
kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden
atau gubernur?
Langganan:
Postingan (Atom)