Rabu, 22 Mei 2013

Nabi-Nabi Yang Pertama Kali Shalat


5 Rahasia Shalat Maktubah
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالصَّلاَةِ وَجَعَلَهُ أَحَدَ أَرْكَانِ اْلإِسْلاَمِ. اَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَم, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ, بَعَثَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَالرَّحْمَةِ وَالسَّلاَمِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ اْلأَنَامِ وَبَدْرِ التَّمَامِ وَمِسْكِ الْخِتَامِ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اِلَى دَارِ السَّلاَم, اَمَّا بَعْدُ: فَيَآ ايُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللهَ بِامْتِثَالِ اَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ مِنَ جَمِيْعِ الْمَعَاصِى وَالْمَأْثَمْ, وَتَدْخُلُوْا جَنَّةَ رَبِّكُمْ بِسَلاَمٍ.
Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah…
Shalat adalah ibadah terpenting bagi seorang muslim. Shalat menjadi tolak ukur kesalehan seseorang. Bahkan shalat merupakan amal kunci bagi segala amal lainnya. Meski demikian jarang sekali orang mengerti bahwa masing-masing waktu shalat yang lima itu mengandung hikmah dan memiliki sejarah masing-masing.

Kamis, 16 Mei 2013

Contoh Muqaddimah Khutbah ke-II (Dua)


اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى, وَالصِّفَاتِ اْلعُلْيَا, أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريْكَ لَهُ اَلْمَعْبُوْدُ اَلْمُرْتَجَى, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلنَّبِيُّ الْمُصْطَفَى, اَللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَهْلِ الصِّدْقِ وَاْلوَفَا, وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَاقْتَفَى, أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ عَلَى الْحُسْنَى. وَقَالَ تَعاَلَى: اِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَرِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ }صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ{ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِىِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Contoh Muqaddimah Khutbah ke-I (Pertama)


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَالْعَاقِـبَةُ لِلْمُتَّـقِيْنَ, وَلاَ عُدْوَانَ اِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ, أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, إِلَهُ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَـيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّـيْنَ, وَاِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ, اَلْهَادِي اْلآمِيْن, اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ: فَياَ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَكُوْنُوْا مِنْ زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ, وَجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ, وَتَفُوْزُوْا مَعَ الْفَآئِزِيْنَ.
***********************

Rabu, 15 Mei 2013

Aqidah+Syari'at+Haqiqat= Iman+Islam+Ihsan= Jalan Menuju Allah SWT


Jalan menuju Alloh Ta’ala ada tiga, yaitu: syari’at, Thoriqot dan Haqiqot.
1.      Syari’at
اَلشَّرِيْعَةُ هِيَ اْلأَخْذُ وَاْلإِتِّـبَاعُ لِدِيْنِ اللهِ تَعَالَى وَاْلإِمْتِثَالُ لِلْمَأْمُوْرَاتِ وَاْلإِجِتِنَابُ عَنِ الْمَنْهِيَاتِ
“Syari’at adalah mengambil (melaksanakan) dan mengikuti agama Alloh swt. Dengan menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi semua larangan-larangan.”
2.      Thoriqot
اَلطَّرِيْقَةُ هِيَ اْلأَخْذُ بِاْلأَحْوَطِ فِيْ سَآئِرِ اْلأَعْـمَالِ
“Thoriqoh adalah mengambil (melaksanakan) agama dengan sangat waspada dan berhati-hati didalam semua amal perbuatan.”
Diantara sikap sangat waspada dan berhati-hati dalam menjalankan agama adalah sifat Waro’ dan ‘Azimah seperti Riyadloh. (a).Waro, menurut Imam Abul Qosim al-Qusyairi, waro’ adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu ysng belum jelas sifat kehalalannya). (b). ‘Azimah, menurut bahasa adalah tujuan yang kuat, bersungguh-sungguh dan sabar atas masalah yang berat menurut nafsu yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Contonhnya dengan Riyadloh, riyadloh adalah mendorong nafsu untuk dituntut aklaq budi yang bagus, seperti terjaga diwaktu malam hari, mampu menahan lapar, zuhud, jujur, ‘uzlah, meninggalkan barang yang diingini nafsu dan lain-lain yaitu semua sifat dan prilaku yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh swt.
قَالَ الْحَسَنُ الْقَزَازِ: بُنِيَ هَذَا اْلأَمْرُ عَلَى ثَلاَثَةِ أَشْيَآءَ, أَنْ لاَ تَـأْكُلَ إِلاَّ عِنْدَ الْفَاقَةِ, وَلاَ تَـنَامَ إِلاَّ عِنْدَ الْغَلَبَةِ, وَلاَ تَتَكَلَّمَ إِلاَّ عِنْدَ الضَّرُوْرَةِ.
Al-Hasan Al-Qozaz berkata: “Perkara ini (riyadloh) dibangun atas tiga perkara:
1)      Janganlah kamu makan kecuali saat kekurangan (sangat lapar).
2)      Janganlah kamu tidur kecuali saat rasa kantuk mengalahkanmu.
3)      Janganlah kamu berbicara kecuali saat terpaksa.”
3.      Haqiqot
اَلْحَقِيْقَةُ هِيَ وُصُوْلُ السَّالِكِ لِلْمَقْصُوْدِ وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَـالَى وَمُشَاهَدَةُ نُوْرِ التَّجَلِّىّ.
”Haqiqot adalah telah sampai bagi salik (orang yang berjalan menuju Alloh Ta’ala) kepada yang dimaksud yaitu Ma’rifatulloh dan menyaksikan Nur Tajalli.”
Menurut Imam Ghozali: “Tajalli adalah nur dari sesuatu yang ghoib yang dibukakan di dalam hati.”

Ulama Ahli Tashowuf mengumpamakan syari’at laksana perahu, thoriqot laksana laut dan haqiqot laksana mutiara yang bernilai tinggi. Syari’at diumpamakan laksana perahu sebab syari’at itu merupakan sarana untuk keselamatan dari kerusakan dala mencapai tujuan. Thoriqot diumpamakan seperti laut, sebab laut merupakan tempat mutiara yang dimaksud. Haqiqot diumpamakan seperti mutiara yang mahal dan bernilai tinggi, artinya mutiara itu tidak mungkin didapatkan kecuali didalam laut. Orang tidak akan sampai ke tengah laut kecuali dengan menggunakan perahu, maka untuk memperoleh mutiara yang mahal itu tidak mungkin, kecuali dengan:
a.       Menggunakan perahu
b.      Mencari ke dala laut.
Begitu pula Haqiqot tidak akan diperoleh kecuali dengan menggunakan:
a.       Syari’at
b.      Thoriqot.
Perumpamaan tersebut dikatakan oleh Syaikh Zainudin bin Ali al-Ma’bari dalam kitabnya Hidayatul Adz-kiya’.
                     فَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيْـنَةِ وَطَرِيْقَةٌ * كَالْبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٌ دُرٌّ غَلاَ
Maka syari’at itu laksana perahu dan thoriqot laksana laut, kemudian haqiqot laksana mutiara yang mahal.
Sedangkan sebagian ‘Ulama’ ahli tashouf yang lain menupamakan syari’at, thoriqot dan haqiqot seperti buah pala. Syari’at laksana kulitnya, thoriqot laksana isinya dan haqiqot laksana minyaknya. Seseorang tidak akan memperoleh minyaknya kecuali setelah memperoleh isinya, dan ia tidak dapat memperoleh isinya kecuali setelah memecah kulitnya.

*KH. Moch. Djammaluddin Achmad, Jalan Menuju Alloh, Pustaka Muhibbien Jombang, 2006.

Akidah Fiqih dan Tasawwuf


Dari Umar ra, dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah saw, suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah saw) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, maka bersabdalah Rasulullah saw: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“, kemudian dia berkata: “anda benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudian dia berkata: “anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan“. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”… Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim) dalam Kitab Hadits Arbain Nawawi.
Dalam hadits tersebut terdapat 3 kata kunci, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.
Begitu juga dengan Agama Alloh, apabila dijabarkan dalam Ilmu Syar’i itu ada 3, yaitu:
1.      اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصَحِّحُ الْعَقِيْدَةَ
Ilmu yang membenarkan Aqidah, yang membawa aqidah menjadi benar, disebut dengan ilmu tauhid. Yang berfungsi untuk menata kehidupan bathiniyyah. Secara global biasa disebut Iman.
2.      اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصَحِّحُ الْعِبَادَةَ
Ilmu yang membenarkan Ibadah, yang membawa Ibadah menjadi benar, disebut dengan ilmu fiqih. Yang berfungsi untuk menata kehidupan lahiriyyah. Secara global biasa disebut Islam.
3.       اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصْلِحُ الْقَلْبَ
Ilmu yang membersihkan Hati, yang membawa hati menjadi baik, disebut dengan ilmu tashowwuf. Yang berfungsi untuk menata kehidupan rahasia bathin. Secara global biasa disebut Ihsan.
Seorang hamba yang berusaha memperoleh ridlo Alloh dan Rosululloh saw:
1.      Wajib mempelajari ilmu yang membenarkan aqidah yang sesuai dengan aliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yang dengan ilmu itu dapat dibedakan antara aqidah yang rusak (fasidah) seperti kepercayaan kaum Mu’tazilah, Jabariyah dan Mujassimah.
2.      Wajib mempelajari ilmu yang membenarkan ibadah, seperti: wudlu, sholat, puasa, zakat, haji, mu’amalah yang sesuai dengan syari’at muthoharoh (peraturan Islam yang suci) karena amal tampa ilmu adalah batal, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Ruslan di dalam kitab Az-Zubad:
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ * أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ
Artinya: “Semua orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak tidak diterima”
3.      Wajib mempelajari ilmu yang membersihkan hati, dari akhlaq-akhlaq yang tercela seperti: kibir (sombong), riya’, hasud (dengki), hirshu (rakus alias tamak), dan sifat-sifat madzmumah yang lain dari penyakit-penyakit hati.

Dipandang dari sisi hukum syar’i bahwa mempelajari tiga ilmu ini hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap mukallaf, disamping seorang hamba wajib mempelajari ilmu-ilmu tersebut juga wajib mengamalkannya, karena orang yang mengerti ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk orang yang halik (rusak), sepert yang dikatakan Ibnu Ruslan dalam kitab Az-Zubad:
فَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ * مُعَذِّبٌ مِنْ قَبْلِ عَابِدِ الْوَثَنِ
Artinya: “Maka orang yang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum penyembah berhala”
Setelah seorang hamba mengetahui tiga ilmu tadi dan mengamalkannya, maka akan memperoleh keselamatan di dalam akhirat dan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, seperti firman Alloh dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11:
... يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Alloh swt meningkatkan satu derajat bagi orang-orang beriman, dan meningkatkan bagi orang yang berilmu derajat yang banyak.
Pengertian derajat yang banyak ini, Ibnu Abbas ra. Mengatakan bahwa Alloh meningkatkan derajat ulama’ di hari kiamat di atas orang-orang mukmin yang lain dengan 700 derajat, sedangkan antara derajat satu dengan yang lain adalah perjalanan 500 tahun.
Rosululloh saw menyaksikan bahwa menuntut ilmu dapat menyampaikan seseorang masuk surga, dan sesungguhnya malaikat-malaikat yang mulia mengagungkan orang-orang yang menuntut ilmu karena memuliakan ilmu itu, dan malaikat itu tidak mengagungkan seseorang kecuali orang itu sebagai orang yang agung dalam kerajaan langit.
Rosululloh saw juga menyaksikan bahwa orang yang alim itu dimohonkan ampun oleh semua yang berada di langit dan dibumi. Seperti dalam sabdanya:
يَسْتَغْفِرُ لِعَالِمٍ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ (كفاية الأتقياء : ۲۳۲۴)
Mari Kita perbaiki cara ibadah kita dengan cara mempelajari ilmu iman, islam dan ihsan, dan mari kita berharap kepada Alloh swt, semoga kita semua bisa menghiasi hidup ini dengan amalan yang bernilai ibadah kepada Alloh

Sabtu, 11 Mei 2013

Contoh Banner/Dekor Isro' Mi'roj


Contoh Kata-Kata Wasiat Bahasa Arab Dalam Khutbah Jum'at


يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ...
فَياَ عِبَادَ اللهِ ...
فَيَآ ايُّهَا النَّاسُ ...
فَيَآ ايُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ الله ...
********************************