Senin, 04 Januari 2016

KEUTAMAAN SURAT AL IKHLASH


Dinukil secara ringkas dari kitab tafsir ibnu katsir :
، عن ثابت عن أنس أن رجلا قال : يا رسول الله ، إني أحب هذه السورة : " قل هو الله أحد " قال : " إن حبك إياها أدخلك الجنة " .
Dari Anas sesungguhnya seorang lelaki berkata :
" wahai Rasululoh, sesungguhnya aku mencintai surat ini ' qul huwallohu ahad'
Rasul bersabda : " sesungguhnya kecintaanmu pada surat al ikhlash memasukkanmu ke syurga."
(HR Ahmad dalam musnadnya secara muttasil)
عن أبي سعيد . أن رجلا سمع رجلا يقرأ : " قل هو الله أحد " يرددها ، فلما أصبح جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، فذكر ذلك له ، وكأن الرجل يتقالها ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : " والذي نفسي بيده ، إنها لتعدل ثلث القرآن "
Dari abu sa'id ,sesungguhnya seseorang mendengar orang lainnya membaca : ' qul huwallohu ahad ' dan mengulang ulanginya,

Jangan Memilih Tidak Tahu

Allah tak akan menghukum kita lantaran kita tidak tahu, begitu kata Imam al-Ghazali رحمه الله
Tetapi justru Allah mengazab mereka yang tidak mau tahu.
Kemauan untuk tahu itulah yang terwujudkan dengan bentuk terus menerus belajar,
Belajar dan beramal menjemput hidayah.
Ketika kita mengubah sikap kita;
Dari tak mau tahu menjadi peduli dan ingin tahu,
Dari berburuk sangka menjadi berbaik sangka,
Dari ragu menjadi yakin kepada-Nya,
Saat itulah Allah akan menunjukkan jalan hidayah-Nya pada kita.
Jangan bersikap semisal seorang yang merasa sakit namun memilih tak mau tahu dengan penyakitnya.
Adalah menggelitik jika tak mau tahu tentang syariat Islam tersebab khawatir dengan konsekuensinya.
Adalah keliru jika tak mau tahu tentang syariat Islam bisa menjadi udzur kala kita melanggar syariat, beralasan tidak tahu.
Sungguh Allah Maha Tahu tentang mana yang tidak tahu, pura-pura tidak tahu & sengaja ingin tidak tahu.

APALAH GUNANYA

- Memiliki wajah cantik ataupun tampan jika tak pernah tersentuh tetesan air wudhu',
- Memiliki tubuh indah dan menarik kalau hanya digunakan untuk menistakan diri, bukannya memuliakan diri,
- Memiliki tubuh semampai nan indah mempesona Kalau tak pernah dibuat untuk bersujud kepada-Nya,
- Memiliki kekayaan dan harta yang berlimpah kalau dalam kesehariannya tak pernah bershadaqah,
- Memiliki bibir merona bak merah delima kalau tiap harinya jarang digunakan untuk berdzikir kepada-Nya.
Ketika kita terlalu bangga atas segala kelebihan yang kita punya ketika hidup di dunia. Yang terkadang membuat kita terlena dan melupakan kewajiban kita kepada-Nya. Disitulah sebenarnya hidup kita akan menjadi sia-sia. Dan menjadi penyesalan ketika menghadap kepada-Nya.
Yuk mulai sekarang kita perbaiki diri.
Dunia boleh kita kejar.
Tapi jangan lupa akhirat juga kita kejar.

MAHABBAH atau AL HUBB - AL 'ISYQ – ASY SYAUQ atau AL ISYTIYAQ.

Jika secara bathiniyyah seseorang "gandrung" terhadap sesuatu atau seseorang maka itulah yang dinamakan MAHABBAH atau AL-HUBB dan sering kita kenal dengan cinta, lalu ketika cinta itu kemudian semakin tumbuh mengakar dan menjalar menguasai seluruh organ dan perasaan dinamakn AL-'ISYQ, setelah itu cinta mencapai titik terdalam dalam hati, yang menapakinya seperti orang yang mabuk, tak ingin lepas, tak ingin kehilangan, tak rela jika tersakiti, buta dan mati rasa itulah yang dinamakan ASY-SYAUQ atau AL-ISYTIYAQ.

PUISI K.H. MUSTHOFA BISRI (tradisi NU)

Aku pergi tahlil, kau bilang amalan jahil
Aku baca shalawat Burdah, kau bilang itu bid’ah
Lalu aku harus bagaimana?

Aku bertawassul dengan baik, kau bilang aku musyrik

Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah adalah aqidah Keluarga Rosulillah sholla Allahu 'alaihi wa aalihi wa sallam.

Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah Asy'ariyah adalah aqidah Keluarga Rosulillah sholla Allahu 'alaihi wa aalihi wa sallam.
Hal tersebut diterangkan keluarga Rosulillah yaitu oleh as-Sayyid 'Abdullah ibn 'Alawi al-Haddad radliya Allahu 'anh
في رسالة المعاونة و المظاهرة و المؤازرة للراغبين من المؤمنين في سلوك طريق الآخرة للإمام شيخ الإسلام قطب الدعوة و الإرشاد الحبيب عبد الله بن علوي الحداد الحضرمي الشافعي رحمه الله تعالى
Al-‘Arif Billah al-Imam as-Sayyid Abdullah ibn ‘Alawi al-Haddad (w 1132 H), Shahib ar-Ratib, dalam karyanya berjudul Risalah al-Mu’awanah, menuliskan sebagai berikut:
(وعليك) بتحسين معتقدك وإصلاحه وتقويمه على منهاج "الفرقة الناجية" وهي المعروفة بين سائر الفرق الإسلامية بأهل السنة والجماعة وهم المتمسكون بما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه، وأنت إذا نظرت بفهم مستقيم عن قلب سليم في نصوص الكتاب والسنة المتضمنة لعلوم الإيمان، وطالعت سير السلف الصالح من الصحابة والتابعين، علمت وتحققت أن الحق مع الفرقة الموسومة بالأشعرية نسبة إلى الشيخ "أبي الحسن الأشعري" رحمه الله فقد رتب قواعد عقيدة أهل الحق وحرر أدلتها، وهي العقيدة التي إجتمعت عليها الصحابة ومن بعدهم من خيار التابعين، وهي عقيدة أهل الحق من أهل كل زمان و مكان وهي عقيدة جملة أهل التصوف كما حكى ذلك أبو القاسم القشيري في أول رسالته.
“Hendaklah engkau memperbaiki akidahmu dengan keyakinan yang benar dan meluruskannya di atas jalan kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Kelompok yang selamat ini di antara kelompok-kelompok dalam Islam adalah dikenal dengan sebutan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah kelompok yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Dan engkau apa bila berfikir dengan pemahaman yang lurus dan dengan hati yang bersih dalam melihat teks-teks al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah yang menjelaskan dasar-dasar keimanan, serta melihat kepada keyakinan dan perjalanan hidup para ulama Salaf saleh dari para sahabat Rasulullah dan para Tabi’in, maka engkau akan mengetahui dan meyakini bahwa kebenaran akidah adalah bersama kelompok yang dinamakan dengan al-Asy’ariyyah. Sebuah golongan yang namanya dinisbatkan kepada asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari -Semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya-. Beliau adalah orang yang telah menyusun dasar-dasar akidah Ahl al-Haq dan telah memformulasikan dalil-dalil akidah tersebut. Itulah akidah yang disepakati kebenarannya oleh para sahabat Rasulullah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum tabi’in terkemuka. Itulah akidah Ahl al-Haq setiap genarasi di setiap zaman dan di setiap tempat. Itulah pula akidah yang telah diyakini kebenarannya oleh para ahli tasawwuf, sebagaimana telah dinyatakan oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam pembukaan Risalah-nya (ar-Risalah al-Qusyairiyyah)
وهي بحمد الله عقيدتنا، وعقيدة إخواننا من السادة الحسينيين المعروفين بآل أبي علوي، وعقيدة أسلافنا من لدن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا، وكان الإمام المهاجر إلى الله جد السادة المذكورين سيدي "أحمد بن عيسى بن محمد بن علي ابن الإمام جعفر الصادق" رضي الله عنهم لما رأى ظهور البدع وكثرة الأهواء واختلاف الآراء بالعراق هاجر منها ولم يزل –نفع الله تعالى به- يتنقل في الأرض، حتى أتي أرض "حضرموت" فأقام بها إلى أن توفي، فبارك الله في عقبه، حتى اشتهر منهم الجم الغفير العلم والعبادة والولاية والمعرفة ولم يعرض لهم ما عرض لجماعات من أهل البيت النبوي من انتحال البدع واتباع الأهواء المضلة ببركات نية هذا الإمام المؤتمن وفراره بدينه من مواضع الفتن، فالله تعالى يجزيه عنا أفضل ما جزى والداً عن ولده ويرفع درجته مع آبائه الكرام في عليين ويلحقنا بهم في خير وعافية غير مبدلين ولا مفتونين إنه أرحم الراحمين. والماتريدية كالأشعرية في جميع ما تقدم.
.
Itulah pula akidah yang telah kami yakini kebenarannya, serta merupakan akidah seluruh keluarga Rasulullah yang dikenal dengan as-Sadah al-Husainiyyin, yang dikenal pula dengan keluarga Abi ‘Alawi (Al Abi ‘Alawi). Itulah pula akidah yang telah diyakini oleh kakek-kakek kami terdahulu dari semenjak zaman Rasulullah hingga hari ini. Adalah al-Imam al-Muhajir yang merupakan pucuk keturunan dari as-Sadah al-Husainiyyin, yaitu as-Sayyid asy-Syaikh Ahmad ibn ‘Isa ibn Muhammad ibn ‘Ali Ibn al-Imam Ja’far ash-Shadiq -semoga ridla Allah selalu tercurah atas mereka semua-, ketika beliau melihat bermunculan berbagai faham bid’ah dan telah menyebarnya berbagai faham sesat di Irak maka beliau segera hijrah dari wilayah tersebut. Beliau berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat lainnya, dan Allah menjadikannya seorang yang memberikan manfa’at di tempat manapun yang beliau pijak. Hingga pada akhirnya beliau sampai di tanah Hadramaut Yaman dan menetap di sana hingga beliau meninggal. Allah telah menjadikan orang-orang dari keturunannya sebagai orang-orang banyak memiliki berkah, hingga sangat banyak orang yang berasal dari keturunannya dan dikenal sebagai orang-orang ahli ilmu, ahli ibadah, para wali Allah dan orang-orang ahli ma’rifat. Sedikitpun tidak menimpa atas semua keturunan Al-Imam agung ini sesuatu yang telah menimpa sebagian keturunan Rasulullah dari faham-faham bid’ah dan mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan. Ini semua tidak lain adalah merupakah berkah dari keikhlasan al-Imam al-Muhajir Ahmad ibn ‘Isa dalam menyebarkan ilmu-ilmunya, yang karena untuk tujuan itu beliau rela berpindah dari satu tempat ke tampat yang lain untuk menghindari berbagai fitnah. Semoga Allah membalas baginya dari kita semua dengan segala balasan termulia, seperti paling mulianya sebuah balasan dari seorang anak bagi orang tuanya. Semoga Allah mengangkat derajat dan kemulian beliau bersama orang terdahulu dari kakek-kakeknya, hingga Allah menempatkan mereka semua ditempat yang tinggi. Juga semoga kita semua dipertemukan oleh Allah dengan mereka dalam segala kebaikan dengan tanpa sedikitpun dari kita terkena fitnah. Sesungguhnya Allah maha pengasih. Dan ketahuilah bahwa akidah al-Maturidiyyah adalah akidah yang sama dengan akidah al-Asy’ariyyah dalam segala hal yang telah kita sebutkan”
Risalah al-Mu’awanah, hal. 14

Sumber 

Jangan Asal Mengkafirkan

saya hanya ingin berpesan hati-hatilah dalam berdakwah, berdakwahlah dengan lembut, penuh kasih sayang, sabar, santun, jangan mudah terjerumus pada mudahnya mengkafirkan atau memusyrikan sesama Muslim apalagi jika tidak tau ilmunya.
Semoga bisa menjadi hidangan yang lezat malam ini;
Jangan kau hukumi kafir lantaran mereka melakukan sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan mereka, maka dia lebih dekat dengan kekufuran” (HR. Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir No. 12912 dari Ibnu Umar)
Juga sabda Rasulullah Saw: "Laa tasyhaduu 'ala ummatikum bi syirkin wa laa tukaffiruuhum bi dzanbin", artinya: “Janganlah kalian bersaksi atas kesyirikan umat kalian. Dan janganlan kalian menghukumi kafir pada mereka lantaran melakukan sebuah dosa…” (HR. Abd al-Razzaq dalam kitab al-Mushannaf No. 9611 dari Hasan)
Rasulullah Saw bersabda: "Idzaa qaala ar-rajulu 'Yaa Kaafiru' fa qad baa'a bihi ahaduhumaa", artinya: "Barangsiapa berkata kepada saudaranya 'Wahai Kafir', maka sungguh perkataan itu kembali kepada salahsatunya" (HR al-Bukhari No 5638 dari Ibnu Umar)
Hadis ini diperkuat dengan hadis lain: "Laa yarmii rajulun rajulan bil fusuqi wa laa yarmiihi bil kufri illa irtaddat 'alaihi in lam yakun shaahibuhu kadzalika". Artinya: "Tidaklah seseorang menuduh kepada orang lain dengan kefasikan (dosa besar) atau dengan kekufuran, kecuali tuduhan itu kembali kepada penuduh, jika yang dituduh tidak sesuai dengan tuduhannya" (HR al-Bukhari No 5585 dari Abu Dzarr).