- Hanya orang2 yg suka ber-lebih2anlah yg punya sepatu/sandal mahal, apalagi malah mengkoleksinya. karena ketahuilah, saat kalian sedang ramai berpesta, berlalu-lalang di mall, di lobby2 gedung, kurang dari 1% orang yg sempat melirik kaki kalian. Coba buktikan datang ke sebuah acara ramai. bahkan tdk ada yg nyadar kalau engkau datang cuma nyeker. Dan hanya orang2 yg super keterlaluan berlebih2anlah yg membeli jam tangan mahal, karena sungguh, semahal apapun jam miliknya, jarum jam tangannya tidak akan bergerak lebih cepat atau lebih lambat dibanding siapapun
- Bahkan motivator paling ulung, group band paling ngetop, orator kelas berat, pernah (dan lumrah saja masih sering) grogi saat tampil di depan umum. Bapak mu bahkan selalu gugup saat bicara di depan umum, jadi santai sajalah, tdk usah cemas. Jgn lupa baca bismillah.
- Hidup ini adalah ujian. kenapa begitu? Karena meski kita semua tahu ujian itu berat dan menyebalkan. orang2 tetap saja sibuk membuat UTS, UAS, ujian nasional, ujian semesteran-an, ujian les, dan sebagainya.
- Kalau kau ingin mengenali karakter orang dgn cepat dan tepat, perhatikan saja saat ada kejadian yg membuat panik, kaget, atau menakutkan tiba2. dengarkanlah kata yg diucapkannya. perhatikanlah ekspresi wajahnya.
- Kalau kau ingin tahu seberapa taat seseorang dgn sunnah Rasul. Maka perhatikan ketika ia berwudhu. Seberapa besar ia membuka keran air.
- Anakku, salah-satu syarat mutlak agar kau bahagia adalah: kau bahagia dan (memang) berbahagia melihat orang lain (teman, saudara, bahkan musuh) hidup lebih beruntung.
- Cinta sejati tdk pernah datang dari satu-dua kejadian. Satu-dua kalimat. Cinta sejati adalah konsistensi dan komitmen panjang. dan kau tahu, sayang. Ibu adalah cinta sejati-mu (maka berhentilah meng-gombal-i anak gadis orang).
- Kelak jika kau sudah besar, kau boleh saja tdk suka, melawan, atau bahkan bertengkar dengan bapak, nak. Tapi jangan sekali-kali. jangan pernah sekali2 kau bilang ‘ah’ pada ibu-mu.
- Jangan habiskan waktu untuk berdebat, sedikitlah bicara. Ah iya, karena besok saat kau besar dunia sudah banyak berubah, jgn habiskan waktumu utk ‘menulis’ mendebat sesuatu.
- Jangan pernah bingung karena kau harus memilih. Karena di luar sana banyak orang yg hanya punya satu pilihan. Dan lebih banyak lagi yang bahkan satu pun tdk mempunyai pilihan.
- Jatuh cinta dgn someone special itu binatang apa? Percayalah, meski seluruh perasaan cinta seperti ini diambil di muka bumi, dunia tetap baik2 saja (apalagi kau yg sedang patah-hati)… Akan tetapi satu saja cinta seorang ibu kepada anaknya diambil, maka seperti rusak sudahlah seluruh kehidupan.
- Jangan pernah takut melakukan sesuatu. Kalaupun gagal, kau bisa mengulanginya lagi… lagi… dan lagi… Abraham Lincoln bahkan 8x gagal mencalonkan diri. kau tahu siapa dia? Bapak juga tidak kenal dekat dengan dia, dan tidak tahu persis sebenarnya berapa kali dia gagal.
- Ingatlah, ‘pertanyaan yg baik’ selalu lebih baik dibandingkan ‘jawaban yg sempurna’. Mendengarkan selalu lebih baik daripada buncah bicara. sayangnya, ketika kau dewasa kelak, semakin banyak saja orang yg suka bernarsis ria dengan ‘kata-kata’, dan selalu merasa bisa memberikan ‘jawaban yg sempurna’.
- Jangan pernah bersedih kalau kau tidak pintar bicara. Hargailah pendapat orang lain, bahkan bila kau benci sekali dgn pendapatnya, dan pendapatnya keliru. Ini akan membedakan seberapa dewasa kau menghadapi liberalisme, demokrasi, dan kata canggih lainnya di masa2 kelak.
- Hal yg paling menyedihkan adalah ketika kau ‘menjilat’ dgn seseorang (entah itu atasan, senior, pemilik, penguasa atau sesuatu yg berkepentingan)… dan sebaliknya kau justeru ‘aniaya’ dgn orang lain (entah itu bawahan, yunior, atau orang sederajat dgn dirimu).
- Kalau kau ingin kaya, jadilah pedagang, jgn pernah jadi PNS, pejabat, guru, hakim, polisi, dsbgnya… Itu tdk akan pernah membuat kau kaya… Kalau kau ingin hidup tenteram, tenang, maka jadilah petani (sebenar2nya petani)
- Berpetualanglah melihat dunia, meski hanya ke kampung sebelah, meski sempat ke kota sekitaran, itu sudah awal yg baik untuk mengenal kehidupan orang lain. Dgn berpetualang, kau akan semakin dewasa. Dan jelas, bapak tdk bisa menceritakan lbh banyak soal dataran tibet sana dibanding kau melihatnya sendiri
Senin, 04 Januari 2016
Nasehat Bapak pada Ananknya
Update "musibah" / "anugerah"
Ada yang share "musibah" dianggap gemar mengeluh, ada yang share
"anugerah" dinilai suka pamrih. Seolah sudah menjadi sifat umum manusia,
pandai melihat kesalahan tapi bodoh menyaksikan kebaikan.
Syiar Malam Tahun Baru
Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama'ahnya ketika beribadah..
Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama'ahnya ketika beribadah..
Majusi menggunakan api untuk memanggil jama'ahnya ketika beribadah..
Dan pada jam 00.00 WIB malam tahun baru, sebagian umat Islam menggunakan ketiganya dalam satu waktu..
Lonceng berbunyi,
Terompet berbunyi,
Kembang api dinyalakan..
Maka benarlah apa yg telah disabdakan Rasulullah 14 abad tahun yg lalu,
Dari Abu Sa‘id Al Khudri,ia berkata:
Rasululah bersabda,
Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.
Mereka (para sahabat) bertanya:
Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani.?
Lalu beliau berkata,
Siapa lagi kalau bukan mereka.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sadarkah kita.?
siapa yg pertama kali merayakan tahun baru.?
Orang-orang kafir atau Orang-orang muslim.
Silahkan temukan jawabannya dalam hati masing-masing
Dan ingatlah bahwa Rasulullah telah memberi peringatan kpd orang2 yg menyerupai orang2 kafir
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR.Ahmad 2:50 dan Abu Daud no.4031)
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami (HR.Tirmidzi no.2695)
Oleh: Ubaidillah Bin Idrus Al-habsyi
Sumber: Islamuna.info googlenya aswaja
Majusi menggunakan api untuk memanggil jama'ahnya ketika beribadah..
Dan pada jam 00.00 WIB malam tahun baru, sebagian umat Islam menggunakan ketiganya dalam satu waktu..
Lonceng berbunyi,
Terompet berbunyi,
Kembang api dinyalakan..
Maka benarlah apa yg telah disabdakan Rasulullah 14 abad tahun yg lalu,
Dari Abu Sa‘id Al Khudri,ia berkata:
Rasululah bersabda,
Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.
Mereka (para sahabat) bertanya:
Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani.?
Lalu beliau berkata,
Siapa lagi kalau bukan mereka.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sadarkah kita.?
siapa yg pertama kali merayakan tahun baru.?
Orang-orang kafir atau Orang-orang muslim.
Silahkan temukan jawabannya dalam hati masing-masing
Dan ingatlah bahwa Rasulullah telah memberi peringatan kpd orang2 yg menyerupai orang2 kafir
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR.Ahmad 2:50 dan Abu Daud no.4031)
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami (HR.Tirmidzi no.2695)
Oleh: Ubaidillah Bin Idrus Al-habsyi
Sumber: Islamuna.info googlenya aswaja
ETIKA SEBELUM ILMU
قال الإمام مالك رحمه الله: كانت أمي تجهز عمامتي وأنا صغير قبل ذهابي لحلق العلم، فتقول: يا مالك، خذ من شيخك الأدب قبل العلم
Imam Malik
bin Anas bercerita: Saat aku masih kecil, setiap kali akan berangkat
mengaji, ibulah yang selalu memasangkan sorbanku. Saat itulah, beliau
seringkali berpesan, "Wahai Malik, belajarlah dari gurumu tentang etika,
sebelum engkau belajar kepadanya tentang ilmu."
..........
Banyak orang yang salah paham tentang adagium "Etika sebelum ilmu", sehingga menjadi "Etika tanpa ilmu". Belajar etika berarti belajar ilmu etika sekaligus menerapkannya. Sebab, etika, ibadah dan amal, berpotensi besar menjadi hal yang menyimpang jika tidak dilandasi oleh ilmu yang benar.
..........
Banyak orang yang salah paham tentang adagium "Etika sebelum ilmu", sehingga menjadi "Etika tanpa ilmu". Belajar etika berarti belajar ilmu etika sekaligus menerapkannya. Sebab, etika, ibadah dan amal, berpotensi besar menjadi hal yang menyimpang jika tidak dilandasi oleh ilmu yang benar.
HATI-HATI DENGAN GELARMU
Numan bin Tsabit atau yang kita kenal
dengan Abu Hanifah, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan
dengan anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu.
Sang imam berkata,
"Hati-hati, Nak dengan sepatu kayumu itu Jangan sampai kau tergelincir."
Sang bocah tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
"Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?" tanya si bocah.
"Nu'man namaku," jawab sang imam.
"Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a'dhom. (Imam agung) itu..??" tanya si bocah.
"Bukan aku yang memberi gelar itu, Masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku," kata sang Imam merendah.
"Wahai Imam, hati - hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar...! Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertai nya," kata si bocah.
Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis.
Imam Abu Hanifah (Hanafi) bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena kemaqoman. Jangan sampai kita jadi tergelincir jadi angkuh. Karena Gelar dan Kebesaran.
Sepasang tangan yang menarikmu kala terjatuh lebih harus kau percayai daripada seribu tangan yang menyambutmu kala tiba di puncak kesuksesan.
Hubungilah sahabat mu, sahabat yang baik adalah lentera di kegelapan, kadang cahayanya baru terasa ketika dunia gelap.
~Hasan al Bashri
"Hati-hati, Nak dengan sepatu kayumu itu Jangan sampai kau tergelincir."
Sang bocah tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perhatian Abu Hanifah.
"Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?" tanya si bocah.
"Nu'man namaku," jawab sang imam.
"Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a'dhom. (Imam agung) itu..??" tanya si bocah.
"Bukan aku yang memberi gelar itu, Masyarakatlah yang berprasangka baik dan memberi gelar itu kepadaku," kata sang Imam merendah.
"Wahai Imam, hati - hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka karena gelar...! Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu bisa menjerumuskanmu ke dalam api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertai nya," kata si bocah.
Ulama besar yang diikuti banyak umat Islam itupun tersungkur menangis.
Imam Abu Hanifah (Hanafi) bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.
Betapa banyak manusia tertipu karena jabatan, tertipu karena kedudukan, tertipu karena kemaqoman. Jangan sampai kita jadi tergelincir jadi angkuh. Karena Gelar dan Kebesaran.
Sepasang tangan yang menarikmu kala terjatuh lebih harus kau percayai daripada seribu tangan yang menyambutmu kala tiba di puncak kesuksesan.
Hubungilah sahabat mu, sahabat yang baik adalah lentera di kegelapan, kadang cahayanya baru terasa ketika dunia gelap.
~Hasan al Bashri
Biografi Singkat KH Sahal Mahfudh
Kiai Sahal Mahfudh terlahir dengan nama lengkap Muhammad Ahmad Sahal
bin Mahfudh bin Abdus Salam. Beliau lahir di desa Kajen, kecamatan
Margoyoso, Kabupaten Pati, pada tanggal 17 Desember 1937. Tanggal
tersebut sebagaimana yang tertera dalam dokumen resmi seperti Kartu
Tanda Penduduk dsb. Namun belakangan ditemukan sebuah catatan lama milik
ayahandanya yang menerakan tanggal lahir kiai Sahal yang sebenarnya
bukanlah tanggal 17 Desember 1937, namun tanggal 16 Februari 1933 M.
Data terakhir ini belum banyak dipublikasikan karena memang baru
diketemukan kurang lebih dua tahun sebelum kiai Sahal Wafat.
Perbedaan mengenai data tanggal lahir ini penting terutama bagi para
peneliti yang bermaksud untuk belajar tentang kehidupan kiai Sahal
berdasarkan kronik atau urutan waktu, tanggal maupun usia. Perbedaan
data mengenai tanggal lahir ini pula yang menyebabkan adanya perbedaan
keterangan yang menyatakan bahwa kiai Sahal ditinggal wafat oleh
ayahandanya pada usia 7 tahun, jika merujuk tanggal lahir kiai Sahal
adalah tanggal 17 Desember 1937. Namun, kiai Sahal sendiri mengaku bahwa
beliau ditinggal wafat oleh ayahandanya ketika berusia 11 tahun, dan
ini sangat cocok jika merujuk tanggal lahir beliau adalah 16 Februari
1933.
Perbedaan tanggal lahir ini juga kemudian berdampak pada
pernyataan yang tidak sama mengenai pada usia berapa kiai Sahal Wafat.
Jika merujuk pada tanggal yang pertama, 17 Desember 1937, maka kiai
Sahal wafat pada usia 77 tahun. Namun jika merujuk pada data tanggal
lahir yang kedua, 16 Pebruari 1933, maka kiai Sahal wafat pada usia 81
tahun.
Sejak kecil sampai akhir hayatnya, Kiai Sahal tidak pernah
lepas dari kehidupan pesantren. Beliau lahir dari Ibundanya, nyai
Badi’ah dan ayahandanya, kiai Mahfudh bin Abdus Salam. Jika dirunut
lebih jauh, keluarga ini mempunyai jalur nasab sampai kepada KH Ahmad
Mutamakkin yang juga diyakini sebagai seorang waliyulloh yang
menyebarkan agama Islam di wilayah Kajen dan sekitarnya. Hingga kini,
jejak perjuangan KH. Ahmad Mutamakkin masih dapat ditelusuri. KH. Ahmad
Mutamakkin wafat dan dimakamkan di desa Kajen, Margoyoso, Pati. Pati
adalah kota kecil di wilayah Jawa Tengah. Letak geografisnya yang
menjorok ke utara dan tidak dilewati oleh jalur utama antar-propinsi
menyebabkan transportasi menuju kota ini tidak mudah dilalui. Desa
kajen, tempat kiai Sahal lahir dan berdomisili adalah desa yang masih
berjarak kurang lebih 22 km dari pusat kota kabupaten. Namun meski
demikian, kondisi ini bukan halangan bagi orang-orang dari berbagai
penjuru daerah untuk mendatangi Kota kecil pati, dengan Kajen sebagai
salah satu tujuan utamanya.
Sahal muda menyelesaikan
pendidikannya di Perguruan Islam Matali’ul Falah pada tahun 1953.
Selepas dari Mathali’ul Falah, beliau melanjutkan pendidikannya di
sebuah pesantren di desa Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur hingga tahun
1957. Setelah dari Kediri, kiai Sahal memutuskan untuk memperdalam Ushul
Fiqh dengan mengaji secara langsung kepada kiai Zubair di pesantren
Sarang, Rembang, Jawa Tengah hingga tahun 1960. Selama di Sarang inilah
kiai Sahal banyak melakukan diskusi melalui surat-menyurat dengan ulana
kharismatik asal Padang yang berdomisil di Makkah al Mukarromah.
Karenanya, usai nyantri di Sarang, Rembang, saat berkesempatan
menunaikan ibadah haji, kiai Sahal bertemu dan berguru secara langsung
kepada Syeikh Yasin al Fadani di Makkah untuk pertama kalinya.
Kesempatan untuk bertemu dan berguru lagi kepada syeikh Yasin al Fadani
datang untuk kedua kalinya ketika kiai Sahal menunaikan ibadah haji
untuk kedua kalinya bersama istri tercinta, nyai Nafisah Sahal.
Kesempatan kedua ini merupakan saat dimana kiai Sahal dan nyai Nafisah
Sahal banyak menerima ijazah secara langsung dari syekh Yasin.
Meski menghabiskan masa pendidikan dari pesantren ke pesantren, namun
disiplin ilmu yang dikuasai Kiai Sahal cukup beragam. Kiai Sahal dikenal
bukan saja menguasai keilmuan yang lazim dipelajari di pesantren
seperti Bahasa Arab, Tafsir, Fiqh, Hadis, Ushul Fiqh, Tasawwuf, Mantiq,
Balaghah dan lain-lain. Namun, lebih dari itu, kiai Sahal merupakan
ulama yang fasih berbicara diantara kaum intelektual kota dan para
akademisi. Hal ini dikarenakan selain tinggak kecerdasan di atas
rata-rata yang dimilikinya, kiai Sahal juga merupakan ulama yang tak
pernah lelah belajar. Kiai Sahal selalu bersemangat untuk mempelajari
hal-hal baru yang dirasa bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat di
sekitarnya. Semangat belajar ini ditunjukkan beliau sejak usia muda
yakni dengan berusaha mempelajari bahasa Inggris, bahasa Belanda, tata
negara, administrasi dan filsafat melalui kursus privat, baik di Kajen,
Pati maupun selama mondok di Bendo, Kediri.
Kiai Sahal memiliki
aktifitas yang beragam. Selain sebagai Pengasuh Pesantren Maslakul Huda
dan Direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah, beliau juga memimpin
beberapa organisasi. Sebelum akhirnya dipercaya menduduki posisi
tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama, kiai Sahal telah aktif dalam
organisasi tersebut semenjak dari level terbawah. Tercatat kiai Sahal
pernah menjabat Katib Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Pati sejak tahun
1967-1975. Ketika itu, NU masih menjadi organisasi politik. Beliau juga
tercatat pernah menjadi ketua Robithoh Ma’ahid Jawa Tengah dan ketua MUI
Jawa Tengah. Aktifitas beliau di NU terus berlanjut hingga kiai Sahal
dipercaya sebagai Wakil Rois ‘Am hingga akhirnya Rois ‘Am Nahdlatul
Ulama selama tiga kali periode berturut-turut. Yakni pada muktamar NU di
Lirboyo pada tahun (1999), kemudian muktamar NU di Solo pada tahun
(2004) dan muktamar NU di Makassar (2010). Selain sebagai Rais ‘Am
Nahdlatul Ulama, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama
Indonesia. Bahkan ketika wafat, kiai Sahal masih dalam masa
menyelesaikan masa bhaktinya di kedua lembaga tersebut.
Selain
aktif di tinggal nasional, Kiai Sahal juga melakukan gerakan nyata di
level lokal. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan,
ekonomi dan kesehatan yang diinisiasi oleh kiai Sahal. Namun, meski
demikian, kiai Sahal tidak otomatis duduk dalam struktur semua lembaga
yang diinisiasinya. Seperti dalam dua bank (BPR Artha Huda Abadi dan
BPRS Artha Mas Abadi), kiai Sahal sejak awal pendiriannya tidak duduk
dalam struktur kepengurusan bank yang didirikannya itu, serta tidak
memiliki saham di dalamnya. Namun beliau secara aktif mensupport lembaga
ekonomi tersebut secara kultural dan bersifat konsultatif.
Selain sebagai Rois ‘Am Nahdlatul Ulama dan Ketua Majelis Ulama
Indonesia, kiai Sahal juga tercatat sebagai pengasuh Pesantren Maslakul
Huda, Kajen, Ketua Dewan Syariah Nasional, Anggota Dewan Penyantun
Universitas Diponegoro, Semarang, Dewan Pembina Yayasan Kesejahteraan
Fatayat yang menaungi Rumah Sakit Islam Pati dan Panti Asuhan Darul
Hadlonah. Dewan Pembina Yayasan Nurussalam yang menaungi Perguruan Islam
Mathali’ul Falah dan Sekolah Tinggi Agama Islam Pati, Rektor INISNU
(kini UNISNU) serta masih banyak lagi yang tidak disebutkan dalam
tulisan ini.
Meski berat secara fisik, kiai Sahal tetap memilih
memimpin organisasi sosial kemasyarakatan terbesar di Indonesia itu
tanpa berpindah domisili di ibukota. Karena rasa sayangnya terhadap
santri dan pesantren, kiai Sahal memilih tetap tinggal di Kajen, di
tengah-tengah santri yang menjadi nadi dan semangat hidupnya untuk terus
melakukan pengabdian kepada masyarakat demi kemaslahatan umat. Berbagai
penghargaan secara nasional dan internasional telah disematkan kepada
kiai Sahal. Dari pesantren kiai Sahal membuktikan bahwa berkiprah secara
sosial merupakan sebentuk ibadah yang wajib dilakukan oleh manusia
untuk menjalankan fungsi kemanusiannya.
Kiai Sahal Mahfudh wafat
pada hari jumat, tanggal 24 Januari 2014, pukul 01.00 dini hari.
Terbilang sejak tahun 2008 sebenarnya beliau mengalami penurunan kondisi
kesehatan, namun semangat beliau untuk terus mengabdi untuk masyarakat
membuat beliau terus berusaha memenuhi keinginan umat yang mengharapkan
beliau memimpin Nahdlatul Ulama.
Demikian pula saat-saat terakhir
hidupnya, setelah enambelas hari di rawat di rumah sakit, beliau
memaksa untuk pulang dan meminta untuk di rawat di kediaman beliau.
Demikianlah, meski tetap berada dalam pengawasan dokter dan tenaga medis
lainnya, kiai Sahal memilih menghabiskan seminggu terakhir hidupnya di
antara keluarga dan para santri yang dicintainya. Berdasarkan wasiat
yang ditinggalkannya, kiai Sahal akhirnya dimakamkan di komplek
pemakaman KH Ahmad Mutammakin, berdekatan dengan makam ibundanya, nyai
Badi’iyyah. Di tempat beliau dimakamkan kini itulah selama hidupnya,
kiai Sahal secara istiqomah duduk bersimpuh berlantunkan tahlil pada
jumat ba’da shubuh.
Oleh: Tutik N. Jannah, Fiqh Sosial Institute Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah Pati Jawa Tengah/ Muslimedianews.
Langganan:
Postingan (Atom)