Sabtu, 25 Mei 2013

Pendidikan Tauhid Dalam Keluarga


 Urgensi (Pentingnya) pendidikan tauhid dalam keluarga, dapat diukur dengan melihat dasar, tujuan, dan fungsinya.
1.      Dasar pendidikan tauhid dalam keluarga adalah Al Quran dan Al Hadits, di antaranya :
a.       Dari Al Quran :
1) Surat At Tahrim ayat 6.
2) Surat Luqman ayat 13.
3) Surat Al Baqarah ayat 132-133.
b.      Dari hadis :
مامن مولود الا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه  (رواه البخاري)
Artinya : “Tidak seorang anakpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan menetapi fitroh, Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori).
2.      Sedangkan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga adalah :
a.       Agar menanamkan kesadaran kepada anak untuk bersyahadat berdasarkan dorongan dalam dirinya sendiri.
b.      Pembentukan sikap muslim yang beriman dan bertakwa.
c.       Agar anak mengetahui makna dan tujuan beribadah kepada Allah.
d.      Mengarahkan perkembangan keagamaan anak.
e.       Agar anak selalu berpikirdan berperilaku positif
3.      Fungsi Pendidikan tauhid dalam keluarga di antaranya adalah :
a.       Untuk memberikan ketentraman dalam hati anak.
b.      Untuk menyelamatkan anak dari dari kesesatan dan kemusyrikan.
c.       Agar anak dapat beribadah kepada Allah secara ikhlas.
d.      Agar anak dapat mengetahui makna dan maksud beribadah kepada Allah.
e.       Agar anak dapat menjauhi hal-hal yang dilarang Allah seperti syirik dan semua hal yang dapat menghancurkan ketauhidan.
f.       Membentuk perilaku dan kepribadian anak, sehingga menjadikan tauhid sebagai falsafah dalam kehidupannya.
Pendidikan tauhid dalam keluarga yang dapat diterapkan oleh para orang tua untuk menumbuhkan kodrat anak. Agar mereka menjadi manusia muslim yang benar-benar meyakini keesaan Allah SWT, serta dapat mengamalkan ketauhidan yang ia miliki dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
1.      Materi pendidikan tauhid dalam keluarga ada empat  yakni :
a.       Ilahiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan) seperti wujud, nama-nama,sifat, dan af’al Allah.
b.      Nubuwat. Yakni  pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul,  juga termasuk pembahasan tentang kitab-kitab Allah, mu’jizat, dan lain sebagainya.
c.       Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, dan Syaitan,
d.      Sam’iyyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, surga dan neraka.
2.      Metode Pendidikan tauhid dalam keluarga adalah :
a.       Kalimat tauhid
b.      Keteladanan
c.       Pembiasaan
1)      Latihan kalimat tauhid
2)      Latihan beribadah.
3)      Latihan berdoa di setiap aktivitas.
d.      Nasehat.
e.       Pengawasan.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan metode yang paling efektif dalam mendidik anak adalah :
1.      Pendidikan dengan keteladanan.
2.      Pendidikan dengan adat dan kebiasaan.
3.      Pendidikan dengan nasehat.
4.      Pendidikan dengan perhatian.
5.      Pendidikan dengan memberikan hukuman.
Sementara Muhammad Zein menjelaskan bahwa metode yang mudah dilakukan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya ada tiga yakni :
1.      Meniru.
2.      Menghafal
3.      Membiasakan.
Metode yang digunakan selain berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan materi pendidikan tauhid juga membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Metode kalimat tauhid sebagai contoh, digunakan untuk menanamkan ketauhidan anak serta untuk mengawali getaran-getaran perdana pada auditif anak yang telah berfungsi sesaat setelah dilahirkan. Kemudian metode keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat dan terakhir metode pengawasan. Secara garis besar metode  tersebut terbagi dua yakni metode teoritis dan praktis.
Pendidikan tauhid dalam keluarga menuntut kemampuan pengetahuan dan wawasan orang tua yang luas. Karena orang tualah sebagai pendidik utama dalam konsep ini. Orang tua harus memiliki pengetahuan Islam yang terintegral untuk melaksanakan konsep pendidikan tauhid dalam keluarganya, selain penguasaan terhadap materi-materi ketauhidan dan metodenya.Selain itu metode yang digunakan harus bertahap, sehingga sesuai antara metode, materi, dan kemampuan anak.
Pendidikan tauhid dalam keluarga menempati posisi terpenting dalam pendidikan keluarga sebagai landasan dan tujuan dari pendidikan lain yang terintegral di dalamnya. Seperti pendidikan akhlak dan pendidikan ibadah. Pendidikan tauhid sebagai ruh dari pendidikan-pendidikan lain, namun pendidikan tauhid memerlukan bantuan materi-materi pendidikan lain untuk mengantarkan ruh dan tujuan tauhid. Sehingga anak akan melakukan seluruh aktivitas kehidupannya dengan landasan ketauhidan yang mantap.

Dari Pemaparan di atas dapat ditarik sebuah implikasi, bahwa :
1.      Konsep pendidikan tauhid dalam keluarga dalam perspektif pendidikan Islam ternyata membutuhkan sosok orang tua ideal. Orang tua merupakan top figur dalam keluarganya, yang berperan sebagai orang tua sekaligus pendidik anak-anaknya. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang harus ada dalam diri orang tua sebagai pelaksana utama konsep pendidikan tauhid dalam keluarganya :
a.       Mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.
b.      Memiliki pengetahuan Islam secara integral yang meliputi materi ketauhidan, akhlak dan ibadah.
c.       Memiliki wawasan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
d.      Memiliki wawasan tentang metode-metode pendidikan/pengajaran.
2.      Karena sulitnya untuk menjadi orang tua ideal diharapkan kepada lembaga perkawinan memberikan pendidikan atau pembekalan kepada setiap calon orang tua yang akan menikah. Lembaga perkawinan (KUA) harus memberikan gambaran tentang tanggungjawab orang tua terutama dalam mendidik anak-anaknya, karena anak-anak mereka adalah penerus kehidupan bagi bangsa dan agama. Terutama pendidikan tauhid setiap calon orang tua, meskipun selama ini telah ada pembekalan bagi setiap calon pengantin yang akan menikah namun hanya sebatas formalitas saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar