Rabu, 15 Mei 2013

Akidah Fiqih dan Tasawwuf


Dari Umar ra, dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah saw, suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah saw) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam?”, maka bersabdalah Rasulullah saw: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu“, kemudian dia berkata: “anda benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman“. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk“, kemudian dia berkata: “anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan“. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”… Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim) dalam Kitab Hadits Arbain Nawawi.
Dalam hadits tersebut terdapat 3 kata kunci, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.
Begitu juga dengan Agama Alloh, apabila dijabarkan dalam Ilmu Syar’i itu ada 3, yaitu:
1.      اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصَحِّحُ الْعَقِيْدَةَ
Ilmu yang membenarkan Aqidah, yang membawa aqidah menjadi benar, disebut dengan ilmu tauhid. Yang berfungsi untuk menata kehidupan bathiniyyah. Secara global biasa disebut Iman.
2.      اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصَحِّحُ الْعِبَادَةَ
Ilmu yang membenarkan Ibadah, yang membawa Ibadah menjadi benar, disebut dengan ilmu fiqih. Yang berfungsi untuk menata kehidupan lahiriyyah. Secara global biasa disebut Islam.
3.       اَلْعِلْمُ اَلَّذِيْ يُصْلِحُ الْقَلْبَ
Ilmu yang membersihkan Hati, yang membawa hati menjadi baik, disebut dengan ilmu tashowwuf. Yang berfungsi untuk menata kehidupan rahasia bathin. Secara global biasa disebut Ihsan.
Seorang hamba yang berusaha memperoleh ridlo Alloh dan Rosululloh saw:
1.      Wajib mempelajari ilmu yang membenarkan aqidah yang sesuai dengan aliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah, yang dengan ilmu itu dapat dibedakan antara aqidah yang rusak (fasidah) seperti kepercayaan kaum Mu’tazilah, Jabariyah dan Mujassimah.
2.      Wajib mempelajari ilmu yang membenarkan ibadah, seperti: wudlu, sholat, puasa, zakat, haji, mu’amalah yang sesuai dengan syari’at muthoharoh (peraturan Islam yang suci) karena amal tampa ilmu adalah batal, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Ruslan di dalam kitab Az-Zubad:
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ * أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ
Artinya: “Semua orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak tidak diterima”
3.      Wajib mempelajari ilmu yang membersihkan hati, dari akhlaq-akhlaq yang tercela seperti: kibir (sombong), riya’, hasud (dengki), hirshu (rakus alias tamak), dan sifat-sifat madzmumah yang lain dari penyakit-penyakit hati.

Dipandang dari sisi hukum syar’i bahwa mempelajari tiga ilmu ini hukumnya fardlu ‘ain bagi setiap mukallaf, disamping seorang hamba wajib mempelajari ilmu-ilmu tersebut juga wajib mengamalkannya, karena orang yang mengerti ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka ia termasuk orang yang halik (rusak), sepert yang dikatakan Ibnu Ruslan dalam kitab Az-Zubad:
فَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ * مُعَذِّبٌ مِنْ قَبْلِ عَابِدِ الْوَثَنِ
Artinya: “Maka orang yang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum penyembah berhala”
Setelah seorang hamba mengetahui tiga ilmu tadi dan mengamalkannya, maka akan memperoleh keselamatan di dalam akhirat dan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat, seperti firman Alloh dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11:
... يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Alloh swt meningkatkan satu derajat bagi orang-orang beriman, dan meningkatkan bagi orang yang berilmu derajat yang banyak.
Pengertian derajat yang banyak ini, Ibnu Abbas ra. Mengatakan bahwa Alloh meningkatkan derajat ulama’ di hari kiamat di atas orang-orang mukmin yang lain dengan 700 derajat, sedangkan antara derajat satu dengan yang lain adalah perjalanan 500 tahun.
Rosululloh saw menyaksikan bahwa menuntut ilmu dapat menyampaikan seseorang masuk surga, dan sesungguhnya malaikat-malaikat yang mulia mengagungkan orang-orang yang menuntut ilmu karena memuliakan ilmu itu, dan malaikat itu tidak mengagungkan seseorang kecuali orang itu sebagai orang yang agung dalam kerajaan langit.
Rosululloh saw juga menyaksikan bahwa orang yang alim itu dimohonkan ampun oleh semua yang berada di langit dan dibumi. Seperti dalam sabdanya:
يَسْتَغْفِرُ لِعَالِمٍ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ (كفاية الأتقياء : ۲۳۲۴)
Mari Kita perbaiki cara ibadah kita dengan cara mempelajari ilmu iman, islam dan ihsan, dan mari kita berharap kepada Alloh swt, semoga kita semua bisa menghiasi hidup ini dengan amalan yang bernilai ibadah kepada Alloh

1 komentar:

  1. betapa pentingnya dakwah bil,internet,, lanjutkan BAng Iskandar,,

    BalasHapus